<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7524617641697668733</id><updated>2012-02-15T23:02:46.755-08:00</updated><category term='resensi'/><category term='kayanya essay'/><title type='text'>Warung Cak Bono</title><subtitle type='html'>Warung imajiner berbagi kopi sastra dan realitas</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Cak Bono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7524617641697668733.post-2168460780250351115</id><published>2008-04-04T23:20:00.000-07:00</published><updated>2008-04-04T23:23:27.510-07:00</updated><title type='text'>Ayat-ayat dua cinta</title><content type='html'>Ayat-ayat dua cinta  &lt;p class="MsoNormal"&gt;(Ketika re-kreasi bertasbih)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya hanya akan sedikit bercerita tentang beberapa kesulitan yang seringkai saya temui ketika mengintrepretasikan kembali sebuah puisi; terutama puisi dalam bahasa asing.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam banyak hal saya masih sepakat dengan Derrida yang saya rtikan bahwa menerjemahkan suatu teks tidak lebih adalah suatu kegiatan re-kreasi, menciptakan ulang. Menciptakan teks baru atas sebuah teks. Meski tak harus bersetia kepada kematian pengarang, Barthes, mau tak mau saya harus menuliskan versi dari seorang pembaca. Pembaca dengan segenap pengalaman baca, beserta sentuhan kreativitasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Berbeda dengan jenis non-fiksi, ruang yang diberikan fiksi tentunya lebih lebar lagi, dimana kreatifitas bisa lebih leluasa bergerak. Dalam hal ini saya lebih banyak akan mengambil jarak berbahasa dari filsasfat analitik, dengan logical positivisme, baik Russel ataupun Witsgentein. Dengan begitu saya harus mengakui bahwa penerjemahan secara ilmiah dengan ketepatan semantic yang tinggi dengan tidak menolerir kebanyakmaknaan bisa diabaikan dalam teks fiksi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jakobson, yang meskipun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dipandang terlalu menyamakan kedudukan bahasa dengan komunikasi, tak bisa dipungkiri saya harus epakat bahwa bahasa sebagai alat utama teks juga bermuatan fungsi emotif. Berbicara tentang puisi, untuk menyingkatnya saya sepadankan fungsi emotif ini sebagai nada, dengan kata lain jarak dan ataupun kedekatan emosi ini saya artikan sebagai nada.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sementara itu nada yang ditemukan ditubuh karya sastra bisa saja berkembang kemana-mana, bisa ditelusuri secara diakronik maupun sinkronik, dan ataupun kontemporer. Penafsiran nada ini bagi saya adalah merupakan suatu mata air kreatifitas. Artinya bahwa sebuah puisi terjemahan bisa jadi merupakan puisi yang mandiri dari teks asalnya. Sebagai salah satu bentuk reintrepretasi kreatif maka puisi terjemahan bisa jadi merupakan salah satu bentuk kreatif atau katakanlah dengan sedikit jumawa: orisinal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Untuk selain puisi, saya bisa membayangkan bahwa Shakespeare bisa jadi mati ketawa menyaksikan Romeo dengan pistol menghabiskan liburanya ditepi pantai, bertingkah seurakan Di capprio. Seperti halnya Dumas bisa terheran-heran oleh pembawaan Di capprio sebagai putra hasil perselingkuhan D’artagnan dengan sang Ratu dalam The Man in The Iron Mask (?). Lepas dari benar tidaknya, sama tidaknya, dengan teks awal; penerjemahan kreatif bagi saya adalah murni sebagai suatu kegiatan re-kreasi. Mungkin dengan begitu tuduhan sebagai pembela budaya posmo tak bisa saya elakkan lagi saya tidak membenarkan dan menyalahkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bisa jadi ungkapan-ungkapan saya dekat dengan pemahaman sejenis bricollage, parody, dan ataupun kitsch. Tetapi, hal yang mendasari pemahaman saya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah bahwa untuk mengkonstruksi suatu karya terjemahan mustahil akan menghasilkan keotentikan yang sama, hal ini juga bisa dilandasi kenyataan bahwa bahasa fiksi adalah berbeda dengan bahasa ilmiah yang sudah seharusnya tidak boleh bermakna ganda. Apalagi bila berbicara bahasa kamera yang merupakan inti kekuatan dari sebuah film. Bahasa yang dimaksudkan memberikan aksentuasi kepada efek yang ingin dicapai oleh sutradara; tafsiran akan semakin melebar mengingat kesenjangan yang bisa ditimbulkan oleh bahasa pictorial dan bahasa descriptional. Terlepas dari itu, benarlah adanya saya terlalu pede dengan pandangan saya. Tetapi sebagai suatu pilihan sikap; apa yang saya sampaikan adalah salah satu dari versi reflektif subyektif: menerjemahkan adalah suatu kerja re-kreasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hal lain, bicara mengenai judul diatas, benarlah bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saya masih terimbas oleh sukses dari film Ayat-ayat Cinta. Saya sudah menontonnya sekali di bioskop. Belum membaca novelnya. Jadi saya tidak bisa membandingkan antara novel dan filmnya yang konon berbeda versi di ending cerita. Dan, saya memang belum berniat membacanya, bukan karena apa-apa tetapi karena memang belum sempat mencari novel tersebut apalagi membacanya, dan terus terang baru mendengar nama Habiburrahman. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya mengandaikan bahwa ruh film itu adalah bangunan awal atau modal saya nanti dalam membaca novel tersebut, maka kesan yang saya dapati dari film itu bisa jadi meneguhkan atau bahkan sama sekali merubah opini saya terhadap film tersebut. Jika tak banyak kesenjangan yang saya dapati dalam pembacaan saya atas film AAC maka bagi saya AAC hanya bertumpu dan dibentuk oleh kekuatan cerita. Meskipun seandainya benar apa yang dikatakan oleh Ayu Utami bahwa film AAC bukanlah hal baru malah justru ketinggalan beberapa decade dari film &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Hollywood&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, bedanya &lt;st1:place&gt;Hollywood&lt;/st1:place&gt; membawa misi kristiani sedangkan AAC jelas merupakan film dakwah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam konteks re-kreasi, AAC jelaslah merupakan hal yang berbeda dengan &lt;st1:place&gt;Hollywood&lt;/st1:place&gt; mengingat pesan dakwah yang dibawanya mengenai poligami, (ah andai kau beri aku kesempatan berpoligami). Pertarungan hati dan cinta segitiga Aisyah-Fachri-adalah peta kecil dari sebuah peta besar yang ideologis dan tersembunyi. Dan, maaf memang saya tak bermaksud apalagi berselera untuk mengungkapkannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Menonton film yang dengan hanya berpegang kepada plot tanpa memberi landas yang kuat pada karakter, AAC terkesan buru-buru. Dan, memang sepertinya memilih jalan populer dan aman dalam menyelesaikan konflik poligami tersebut dengan aman. Bagi saya, konflik sebenarnya bisa terjadi justru di saat poligami di jalani. Alih-alih menggali lebih dalam permasalahan, AAC justru lebih memilih mematikan tokoh yang potensial. Sebuah penyelesaian yang mudah. Bagi saya, kematian adalah penyelesaian usang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kematian di akhir AAC bagi saya bermakna sebagai ketidakberanian dalam memberikan pandangan yang lebih realistis dan menukik. Alih-alih mengembalikan kesimpulan kepada penonton AAC malah memilih untuk menyerah secara romantis kepada kematian. Memang semuanya akan mati, tetapi apa salahnya untuk sedikit lebih cerdas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya mengandaikan bagaimana seandainya poligami tersebut bisa dijalani dengan cerdas, atau diselesaikan dengan cerdas tanpa perceraian! Saya kira daripada menganjurkan AAC malah menegaskan bahwa idealnya monogami itulah penyelesaian daripada poligami; meski dalam menyimpulkan hal ini AAC lebih memilih untuk bersikap simbolik. Perceraian dengan latar takdir kematian tak ubahnya seperti deux ex machina.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Saya akan lebih menerima jika seandainya AAC diakhiri oleh perceraian daripada kematian; dan bahkan lebih suka lagi bila kisah poligami tersebut diselesaikan tanpa perceraian. Memang lelaki mana sih yang tidak ingin berkuasa? Saya kira dengan cermin poligami, sebenarnya benak para lelaki yang cenderung untuk menguasai dan mendominasi lebih bisa dikemukakan dan diperdebatkan. Karya yang baik tidak hanya menghibur tetapi gaungnya hingga kepada penalaran.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Logika modern dengan nafas kesetaraan jender tentu akan sulit menerima keberadaan poligami. Saya mengandaikan jika saja film ini lebih berani dalam menggali konflik ini saya kira banyak peta-peta besar lain yang akan tersentuh. Dengan begitu tafsir yang re-kreatif atas pandangan monogami dan poligami akan menemukan jalannya yang lebih lapang, terlepas setuju atau tidak setuju dengan poligami. Dengan demikian, jikalau dikatakan sebagai film dakwah maka AAC ini menurut saya kurang memberikan nilai solutif, tanggung dan kurang berani.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Memang tidak memihak poligami ataupun anti poligami merupakan salah satu pilihan sikap, tetapi bagi saya di mata kegiatan berkesenian, efek dan kecerdikan dalam menyelesaikan suatu masalah dan pencerahan adalah hal pokok; jika tidak demikian jatuhlah sebuah karya ke alam yang banal dan klise.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dan terus bertasbihlah re-kreasi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;*Obn&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   (sedang kerasukan, dan mabuk!)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7524617641697668733-2168460780250351115?l=warunge-cakbono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/feeds/2168460780250351115/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7524617641697668733&amp;postID=2168460780250351115' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/2168460780250351115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/2168460780250351115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/2008/04/ayat-ayat-dua-cinta.html' title='Ayat-ayat dua cinta'/><author><name>Cak Bono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7524617641697668733.post-706219363307735584</id><published>2008-02-07T10:10:00.000-08:00</published><updated>2008-02-07T10:39:19.000-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kayanya essay'/><title type='text'>Sastra Tinju</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sastra Tinju!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mungkin bagi bukan penggemar tinju, pertarungan Chris John danCabalera barangkali tidak menerik untuk diikuti; mungkin ada yangberanggapan tinju adalah salah satu cabang olahraga primitif yangkurang beradab. Peninggalan dari sebuah penindasan dari manusia kemanusia lain, sisa dari sejarah perbudakan yang kelam para Gladiator.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tapi, kok bisa saling pukul sampai memar dan berdarah darah, bahkanmematikan itu begitu mengasyikan? Apa bagusnya Tinju, malah semakinmengiris bila ingat bahwa belakangan banyak didapati petinju yangmerupakan tulang punggung keluarga tewas di ring. Apakah masuk akalmembiarkan kekerasan dan kematian terjadi secara langsung didepanhidung kita. Sungguh absurd, karena bagaimanapun juga tinju mestinya adalah sebuah permainan saja. Apa menariknya tinju?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Demikian pula Sepakbola, seorang teman perempuan saya dulu pernahberkata: permainan bola itu menjemukan, lucu sekaligus tak bermanfaat.Bagaimana bisa sepuluhan orang berlarian kesana-kemari, membuangtenaga dilapangan dan buang waktu, eh...lha kok malah disoraki! Belumlagi yang gibol-mbonek, jangan ditanya kasus tawuran, holiganisme atau kecelakaan supporter yang merenggut nyawa. Dia sebal mungkin karena punya pengalaman buruk dengan rerombongan supporter bola yang berduyun berangkat ke stadion. Tak hanya memacetkan jalanan malah menggoda dirinyayang kebetulan berkendara motor. Tak hanya digoda, bahkan beberapabagian tubuhnya sempat dibejek-bejek sampai bonyok rasanya.  Mending klub lokal mereka menang, kalau kalah, wah, bisa-bisa lebih serem lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagi sebagian besar wanita, beberapa olahraga lelaki itu tak masukakal, lucu, kekanak-kanakan, liar, primitif dan bahkan tak beradab.Tapi, tentu saja hobi kaum wanita itu juga seringkali tak masuk akal.Menghabiskan waktu berjam-jam dengan tak bosan duduk manis di depanTipi memperhatikan tinju antara Maia dan Ahmad Dhani. Bagaimanamungkin, perceraian bisa lebih penting dari banjir akibat pemanasanglobal, atau kritisnya Pak Suharto. Tapi, saya tak mau membahaspermasalahan komunikasi dan media masa; hanya saja perebutan remoteyang sering terjadi antara suami istri bagi saya lebih menarik untuksedikit dibahas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya hanya akan mengemukakan kenapa saya sebagai lelaki menyukai bola,tinju, dan balap motor. Olahraga yang terakhir ini justru menyenangkankarena The Doctor alias paklik Rossi. Untuk urusan balap motor sayaberdua istri sering bertengkar hebat. Bukan karena tidak suka, ataurebutan remote, tetapi saya yang selalu menjagokan selain Rossi, kalautidak Stoner yah Pedrossa. Terutama bila Rossi gagal menyelesaikanlap, dia seringkali menyelonong dan tiba--tiba mematikan Tipi, setelahteriakan keras saya: Mampus lu Rossi!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dan yang tidak menyenangkan adalah dia tidak suka tinju atau sepakbola(kecuali bila pemain bolanya cakep!); seringkali saya harus menontonsambil berdiam diri, seperti mumi, terutama setelah perebutan remotesaya menangkan. Sungguh tak nyaman menonton pertandingan tinju maupunbola tanpa teriakan, ibarat motor tanpa bensin. Bila demikian sayalebih cenderung untuk pergi keluar rumah bergaul dengan teman-teman, para tinju dan bola mania. Kalau beruntung saya tidak akan diganggu olehSMS ataupun misscall, seringnya justru harus menikmati pertandingandengan gangguan SMS dan misscall yang mengurangi ketegangan, keseruandan kenikmatan tontonan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yang menyebalkan, sampai saat ini saya belumberani ambil resiko mematikan HP saat berkeliaran nonton acara tipibola atau tinju yang seringkali ditayangkan lewat tengah malam. Nah,agar yang dirumah paham akan kesukaan saya pada tinju ataupun boladipahami, mau tak mau saya harus pintar-pintar cari alasan. Bila perludiada-adakan. Tentu saja agar kesukaan saya itu dipahami, dan syukur-syukur tidak diganggu lagi.Apa yang menarik dari tinju, dan bola? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya kira setiap permainan selalu membutuhkan perpaduan antara kecerdasan, instink, intuisi,kecepatan dan tenaga. Dan pada kedua cabang olahraga tersebut sayamendapatkan pencerahan, tak jarang inovasi, tehnik-tehnik baru.Terlepas dari kerasnya akibat body contact yang pasti terjadi, keduaolahraga tersebut membutuhkan konsentrasi, keuletan dan pemanfaatntenaga yang baik. Itu, pendapat seorang penikmat bola dan tinju danbukan pelaku, teoris ataupun praktisi olahraga tersebut. Tetapi,setiap penonton adalah kritikus. Dan terutama para manianya akan taksegan-segan berkometar pedas macam: BEGOOOO! Goblok! Rasain!Hih...kapok koen! sampai yang paling pedas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kebanyakan seorangpenggemar setia acara bola ataupun tinju adalah seorang kritikus,sama halnya dengan pembaca buku sastra. Lho, kenapa ke sastra? Sederhana saja, karena saya juga suka sastra, itu saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa samanya sepakbola, tinju dan sastra? Saya tidak berniat menyamakan ketiga kesukaan saya itu, tetapi bahwa olahraga tinju, sepakbola, dan sastra itu mempunyai 'batasan'. Yah 'batasan'! Bagi saya apapun itu tak bisa dikatakan berbentuk kecuali dia mempunyai batasan-batasan. Aturan main bisa disebut begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bayangkan pertandingan tinju tanpa aturan main, tanpa ring. Mungkin seru, tetapi belum tentu menarik dan sudah pasti tidak beradab. Itu yang harus digarisbawahi sebagai pembeda antara permainan (game) dan kekerasan fisik! Begitu juga bola, bayangkan bila tidak ada batasan lapangan, tidak ada batas waktu, dan tidak ada wasit, atau bahkan tidak ada batas gawang! apakah akan disebut sebagai permainan apalagi pertandingan (game/match) sepakbola?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin menyenangkan, tetapi tidak menarik. Bukan karena sekedar 'pengakuan' publik tetapi aturan itu membuat sebuah permainan menarik dan memberikan bentuk pada sebuah kepuasan. Bagi saya kepuasan itu bisa tercapai apabila ada jarak antara yang batasi dan yang absolut. Puas karena saya telah menyanggupi suatu batasan. Gampangnya begini saja, enak mana antara menonton sepakbola suka-suka dengan permainan tanding (game) sepakbola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula untuk sastra, katakanlah puisi. Sebuah pernyataan yang cukup menggelitik saya adalah sebuah pendapat bahwa 'dunia ini sendiri saja adalah juga puisi. Mungkin dari sudut pandang tertentu atau kesan tertentu, bisa saja begitu. Tetapi dalam konteks batas dan aturan main, saya kira pernyataan itu menyesatkan. saya bisa maklumi, barangkali pada saat mengungkapkannya si pembicara tersebut tidak sedang serius. Atau sekedar memberikan perbandingan dan simbol. Dan, ataupun bisa juga merupakan ungkapan yang bersifat metaforis, ataupun metonimi. Mungkin tak masalah, tetapi, barangkali yang mengganggu saya adalah jika hal yang demikian (simbolik, metaforik) dijadikan sebagai dasar sebagai alasan untuk menulis puisi secara suka-suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang saya contohkan diatas, bagi saya adalah bahwa lebih mengasyikkan menonton pertandingan tinju ataupun sepakbola daripada sekedar permainan suka-suka sepak bola ataupun tinju. Tentu sekali waktu saya juga bermain bola dengan teman sebagai hiburan, dengan minim aturan atau bahkan tanpa aturan sama sekali. Tetapi konvensi minim tetap harus ada, bagaimana mungkin disebut permainan sepakbola bila dalam memainkannya tanpa bola atau setidaknya bola-bolaan? Saya artikan bahwa Dunia olahraga tinju, sepakbola dan sastra disebut demikian karena adanya BATASAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan bisa menyatakan sastra sebagai bentuk jika sastra tidak mempunyai batasan! Tetapi jangan dilupakan, ada pula yang disebut sebagai 'grey area'. Wilayah abu-abu, atau wilayah 'kayanya'- "Kayanya ini puisi yah...!"- wilayah tak pasti. Tetapi itu tidak berarti tidak adanya batas, hanya saja konsensus batas definitif itu sepertinya sangat sulit untuk dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini konvensi, atau aturan main bisa jadi sangatlah membantu; sastra tidak akan nyaman tanpa batasan, seperti halnya pertandingan bola, dan tinju tidak akan enak dinikmati tanpa aturan main. Tetapi kita akan dihadapkan pada kesulitan lain, apakah aturan main/konvensi ini dianggap sebagai kemutlakan? Bila demikian adanya maka apa yang dianggap sebagai sepakbola adalah ukuran lapangan, ukuran lingkaran tengah lapangan, ukuran gawang, hukum-hukum main lainnya dan bukan seni ber-sepakbolanya sendiri. Aturan main tidak identik dengan permainan, dan teori sastra tidak identik dengan sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan terjadi terus pergeseran-pergeseran seiring perkembangan peradaban, dengan demikian yang mutlak adalah kemustahilan karena apapun yang dikatakan mutlak di dunia ini akan berhadapan dengan sang waktu dengan sang perubahan! Saya tidak sedang membujuk anda untuk percaya Heraclitus, tetapi sepertinya di dunia ini memang tidak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu juga bisa diamati dari pertikaian-pertikaian para kritisi dan teorisi sastra beserta pendekatanya. Apa yang harus diemban sebuah karya tulis agar bisa dikatakan sebagai sastra yang sudah berlangsung sejak Plato vs Aristoteles. Demikian juga tinju yang mengalami pengurangan ronde; dulu saya sempat menyaksikan tinju dengan 15 ronde. Atau, dulu sempet berkembang kontoversi mengenai fair tidaknya babak tendangan penalti; dan juga ditambahkannya babak golden goal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan mengalami pergeseran karena permainan mengalami pergeseran, karena peradaban juga mengalami pergeseran. Seperti halnya dominasi pemikiran juga mengalami pergeseran dimana dominasi para 'mister' sebagai pewaris peradaban juga mulai dipertanyakan. Dan, saya terus terang dalam beberapa hal sepaham dengan Ahmadi Nejad, bahwa DK tetap PBB sebagai warisan sejarah kemenangan sekutu pada PD II tidak lagi relevan. Dan tentu saja kita dari hari ke hari juga dibuat tak nyaman dengan dominasi USA di hampir segala bidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan membesuk permasalahan bagaimana aturan main direifikasi, dinaturalkan untuk kemudian menjadi mitologi, seperti halnya kenapa ukuran ekonomi suatu bangsa harus diukur dengan Dollar. Dalam hal ini saya juga tidak merasa nyaman bila justru aturan main itu sendiri sudah sangat tidak masuk akal dan dibuat demi keuntungan pihak tertentu.Untuk hal itu, tinju, sepakbola, balap motor, dan sastra membutuhkan ilmuwan. Ilmuwan yang mengkaji dengan adil dan berimbang, dan mendasarkan diri kepada dedikasi dan kecintaan kepada permainan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin bahwa aturan yang setidaknya obyektif biasanya timbul dari pemerhati dan pecinta-pecinta berat permainan tersebut. bahwa dibutuhkan dialektika antara permainan, ataupun karya dengan pecinta-pecintanya. Saya kira sebelum menjadi pecinta seseorang akan memulainya sebagai penikmat. Seorang penikmat yang baik akan belajar memahami pertandingan atau karya yang baik dalam taraf ini inilah pemahaman dang penghayatan nulai dibentuk. Untuk kemudian kecintaan akan semakin besar karena perasaan kedekatan, hal ini  bisa tumbuh dari pengalaman dan penghayatan yang intens dan tak kenal lelah. Ah, jadi ingat dulu waktu memenangkan hati istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan begitu seorang pecinta akan lebih tajam dalam menilai sebuah kelebihan dan kekurangan dari apa yang dicintainya dikarenakan pergaulannya yang intim tersebut. Hal itu tentu saja akan menimbulkan sifat kritis, tentu saja dengan harapan agar apa yang dicintainya itu berlangsung dan menghasilkan hal yang baik. Mungkin saya terkesan menyederhanakan, tetapi seperti penggemar bola fanatik seorang fanatik pembaca sastra dengan demikian akan lebih mempunyai pandangan yang lebih dalam dan detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari benar tidak benar, shahih tidak shahih, terlalu teoris, terlalu idealis atau bahkan tidak mungkin dilakukan. Sebuah kritik yang mendalam adalah salah satu respon sebagai bentuk perhatian kepada sastra. Yah, hal itu, saya artikan sebagai sebuah perhatian yang intim dari para fanatik sastra kepada dunia sastra itu sendiri. Sebuah kritik yang dalam tentunya akan diperoleh karena pengalaman baca yang dalam. Dan, sebuah permainan yang menarik tentu akan menggugah kritik yang tak kalah dalam dan menariknya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apakah sebuah karya sastra adalah sebuah permainan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...bersambung&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7524617641697668733-706219363307735584?l=warunge-cakbono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/feeds/706219363307735584/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7524617641697668733&amp;postID=706219363307735584' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/706219363307735584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/706219363307735584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/2008/02/sastra-tinju.html' title='Sastra Tinju'/><author><name>Cak Bono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7524617641697668733.post-7634017419000148255</id><published>2008-01-23T05:04:00.000-08:00</published><updated>2008-01-23T05:18:30.712-08:00</updated><title type='text'>Momentum dan Kecerdasan dalam Berpuisi</title><content type='html'>Momentum dan Kecerdasan dalam berpuisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan vs kulitas afektif, rasanya terlalu tajam, tapi biarlah, barangkali dengan begitu pembeda antara keduanya agak terlihat. Bukan dengan maksud agar keduanya nampak benar-benar berbeda, tetapi dibalik artikulasi-artikulasi yang memungkinkan keduanya muncul pada wilayah yang sama; ada hal ikhwal yang membedakan keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang momentum, peristiwa, dan pengalaman hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, berawal dari pengertian saya tentang momentum. Pada sebagian besar pendapat yang saya anggap cukup kuat dipegang teguh oleh kaum modernis, dan eksistentialis mengesankan bahwa momen itu harus direbut, diperjuangkan, dan bahkan dibentuk. Karena sikap seperti ini, dalam pengertian saya adalah menempatkan sang 'aku' sebagai pusat dunia yang memang diagung-agungkan oleh doktrin modernisme, humanis-positivis-universalis. Tak pelak saya harus mengakui jasa besar mereka pada peradaban, tetapi juga proses modernisasi dengan sisi industrialismenya mau tak mau mewariskan dunia yang telah jauh tereksploitasi; salah satunya mewariskan bencana pemanasan global yang sudah di ujung hidung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendapati kedekatan sikap ekploitatif dengan sikap yang diambil oleh eksistentialis Sartrian. Etre-pour-soi, ada untuk dirinya. Dan, etre-en-soi, yang ada-nya tanpa sejarah, tanpa makna. Yang  baru mempunyai essensi hanya bila telah dimaknai, atau lebih jauh dieksploitasi dan dimomenkanoleh sang Aku. Dan, aktifitas yang menonjol dari sikap ini adalah aktifitas menidak atau sepenuhnya kebebasan memilih sang Aku. Karena sepenuhnya bebas memilih maka tanggung jawab adalah seluruhnya ditangannya sendiri, ‘aku’ adalah subyektif individualis sang penguasa makna murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesamaan eksistentialisme Sartre dan Heidegger terletak kepada kebebasan.Tetapi, bedanya dengan  Heidegger, yang menolak disebut sebagai eksistentialis, adalah anggapannya bahwa kebebasan itu selalu diikat oleh situasi. Pendapat yang berasal dari Fichte yang mengasalkan bahwa kebebasan tidak datang dari sesuatu yang tidak ada tetapi karena situasi tertentu. Heidegger juga membedakan antara ‘ada’ dalam das sein (realita) dan das sollen ( seharusnya benar-benar ada dalam realita).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pengertian dan kerangka eksistentialisme Heidegger dan Fichte inilah yang mendasari arti ‘momen’ bagi saya; bahwa situasi itu adalah salah satu pendorong potensial bagi sebuah momen, yang kemudian direbut oleh penyair dengan kemampuan individunya. Saya kira hampir semua penyair adalah produk ‘situasi’ dari dorongan atas pencerapannya atas situasi; karenanya, ungkapan penyair tak terpengaruh momen-momen lain dan justru sepenuhnya mampu membuat momen bagi dirinya sendiri, bagi saya, terdengar hampir tidak mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan sebuah karya sastra tidak datang begitu saja, tetapi karena adanya situasi atau katakanlah momen-momen tertentu sebelum atau yang sedang terjadi. Saya berkeyakinan bahwa justru penyair yang baik sebagian besar menghasilkan karyanya dari kepadatan pengalaman yang sublim karenanya sanggup mengakrabinya dengan intens. Seperti Abdul Hadi yang kuat dengan sajak-sajak tentang lautnya, atau Acep dengan pergaulan intensnya dengan pedusunan, atau pula Sapardi yang mempesona saya dengan sajak-sajak cerita masa kecilnya. Belum lagi penyair-penyair besar yang hidupya dipenuhi dengan pengalaman yang menegangkan, menyesakkan, kesengsaraan, perjuangan hidup bahkan ancaman kematian seperti: Chairil Anwar, Byron, Rimbaud, ataupun Lorca. Penyair yang dibentuk dan akrab dengan momentum, peristiwa, dan pengalaman hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang kecerdasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa dalam pengertian banyak pihak seringkali mengartikan kecerdasan sebagai kognitif semata, dan tentu saja bagi saya hal itu adalah kurang mendasar. Mengingat khalayak umum dan sumber bacaan saya, yang kebetulan semasa kuliah dulu pernah mendapat materi tentang psikologi pendidikan yang membahas masalah kecerdasan ini, kebanyakan menyebut kecerdasan adalah sebagai ‘intelegensi’/intelegence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sebaiknya tidak hanya mendasarkan pengertian kecerdasan kepada faktor spekulatif atau filsafati bahasa ataupun dalam kerangka pengertian ‘differance’ a la Derrida. Yang dengan begitu akan cenderung berpotensi untuk berkutat pada debat bahasa, generalisasi kecerdasan, atau menariknya kesana kemari dan untuk kemudian menjadikannya kembali sangat relatif. Dalam pandangan saya, dalam hal ini, sepertinya masih banyak yang mencampuradukkan antara kecerdasan/intelegensi dengan sekedar kognisi/cognition, bakat ataupun kualitas afektif .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepengetahuan saya, ada beberapa konsepsi tentang intelegensi ini yang beberapa diantaranya adalah, konsepsi spekulatif filsafati, konsepsi pragmatis, konsepsi faktor, konsepsi operasional, dan konsepsi fungsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian konsepsi itu, untuk singkatnya, kecerdasan alias intelegensi itu menurut konsepsi operasional hanya bisa dihasilkan, dan didefinisikan oleh test. Sementara Stern maupun Langeveld menitikberatkan kecerdasan lebih kepada faktor fungsionalnya. Langeveld mendifinisikan intelegensi sebagai disposisi untuk bertindak, untuk menentukan tujuan-tujuan baru, membuat alat untuk mencapai tujuan, dan mempergunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian bahwa unsur fikir dan penalaran -‘otak’- yang lebih menguat dalam hal kecerdasan ini. Hal ini bisa dilihat bahwa didalam kecerdasan, unsur ‘tujuan’ alias ‘kesengajaan’ merupakan faktor fundamental! Bandingkan dengan kebanyakan penyair yang menunggu inspirasi dan mood, yang dengan demikian untuk proses pembuatan sebuah karya cenderung ‘katanya’ meskipun terpengaruh oleh inspirasi dari sekitarnya juga terkadang masih harus menunggu mood, ekspresif emotion, spontanitas, bahkan ada yang bilang harus sampai trance ataupun kerasukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan di sisi lain cenderung diwarnai oleh aktifitas kognisi ataupun intelektualisme; penalaran. Memang dalam intelegensi, merujuk pada Guilford, bila ditinjau dari isi, faktor-faktor intelegensi juga menyangkut kemampuan figural, symbolic, dan semantic. Akan tetapi segala pemanfaatan faktor isi alias kemampuan verbal, dan ataupun word fluency itu bertujuan akhir untuk difokuskan lebih kepada penalaran atau reasoning yang mendasari kecakapan berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kognisi/cognition adalah knowing atau awarenes termasuk sensation tapi diluar emotion yang membentuk kecerdasan/intelegence. Menjadi suatu pertanyaan menarik, mengingat perkembangan dunia sastra dan seni, apakah dalam penikmatanya sebuah puisi itu lebih dinalar atau dirasa; masuk akal-tidak masuk akal atau bagus-jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada bedanya, meski dengan kendara yang sama yaitu sarana puitik antara filsuf  atau ahli hukum yang ‘nyair’ dengan penyair yang berfilosofi. Meski produknya sama-sama bercorak puitis tetap ada beda tujuan dan pemanfaatan. Salah satu contoh konkrit adalah  pada bahasa hukum pada abad pertengahan yang berupa sajak, perjanjian ilmiah dalam bahasa sanskrit juga bersajak dalam tradisi India. Bahkan, Al Qur’an (Yaasiin: 69) menolak dengan tegas disebut sebagai syair meski unsur paronomasia, prosodi, dan metriknya juga luar biasa. Bisa saja teks-teks tersebut berstruktur puitik dan bermetrik akan tetapi tidak berarti fungsi puitik mempunyai peran yang menentukan dan mutlak didalamnya seperti yang berlaku dalam puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, dalam hal kepenyairan, dan ataupun kesenimanan, sementara ini saya akan sependapat dengan Max Weber yang membagi tingkah laku manusia menjadi empat:  Afektif handlung, traditional handlung, wertrational handlung, zwecktrational handlung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkah laku afektif lebih menonjolkan perasaan daripada intelegensi. Pada wilayah  inilah seni dan sastra pada umumnya beroperasi. Karenanya, kemampuan afektif tidak dapat diukur secara tes IQ atau tes intelegensi/kecerdasan. Budi Darma juga menempatkan aktifitas bersastra dan berkesenian ini dalam kutub tingkah laku manusia sebagai Homo Ludens dan bukan Homo Sapien. Tetapi, tentu saja ‘minimum IQ’ masih dibutuhkan untuk aktifitas berbahasa ataupun peran manusia sebagai Homo Symbolicum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya sastra dan seni adalah lebih kepada olah rasa daripada olah kecerdasan. Tetapi, tetap saja perlu diperhatikan bahwa dalam berkesenian ada berbagai aliran, termasuk realisme sosialis, yang dalam salah satu aspeknya adalah kecerdasan dengan sumbu rasionalisme dan ataupun empirisme yang mendapat perhatian dan penekanan. Dalam hal ini saya menduga bahwa penggunaan puisi sebagai gaya pengungkapannya hanya berkecenderungan untuk aspek kekuatan potensial retorika yang terkandung dalam puisi, seperti yg ditujukkan oleh puisi-puisi 'khotbah', puisi 'pikir' pun puisi propaganda, yang pernah diusung oleh Thukul, Rendra dan ataupun Afrizal Malna. Dimana puisi secara optimal dimanfaatkan untuk lebih menekan dan  mempengaruhi pathos, dengan kata lain puisi adalah usaha emotional appeals.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diluar itu, sepertinya dunia puisi, sastra atau produk emotif pada umumnya berhubungan secara tidak signifikan dengan kecerdasan ataupun kualitas intelegensi. Kecuali, barangkali emotional, spiritual quality, dan pengaruh dunia bawah sadar; dunia mimpi seperti yang ditunjukkan oleh karya-karya pelukis Salvador Dalli dengan surealismenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, ditinjau dari nadanya tentang kecerdasan barangkali akan lebih sesuai bila diasumsikan dengan pengertian bakat (aptitude) daripada sekedar kecerdasan, atau daripada hanya aspek kognisi. Yang mana, menurut Guilford memang kemampuan kognisi/cognition merupakan salah satu faktor dari kecerdasan/intelegensi; tetapi, memang ada bedanya antara kognisi, kecerdasan dan bakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya memang perlu membedakan antara hanya aspek  kognisi/cognition, kecerdasan/intelegensi, dan bakat/aptitude. Bakat/aptitude, menurut W.B. Michael dalam Encyclopedia of Educational Research (1960.Hal.59), adalah bisa ditinjau sebagai kemampuan individu untuk melakukan suatu tugas, yang mana, seseorang itu sedikit sekali mendapatkan pelatihan atau bahkan tanpa latihan mengenai tugas itu sebelumnya. Sepertinya nada ekspresif dan spontanitas lebih mengemuka dalam hal ini. Aspek yang seringkali didengungkan bahkan dimitoskan oleh seniman atau penyair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan bisa dihasilkan melalui pelatihan yang bertujuan, seperti yang kita temui melalui workshop-workshop ataupun buku-buku how to, dan hasil akhirnya bisa jadi dapat ditest dengan instrumen yang telah dipersiapkan untuk mengukur adanya peningkatan kecerdasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan penalaran afektif bisa saja sengaja dilatih dengan metode pembentukan olah rasa melalui olah fikir; second experience (baca: teori) bisa saja memancing bahkan mengukur dan menentukan cerdas tidaknya penalaran terhadap produk-produk afektif. Tetapi, kualitas dan respon atas aspek afektif ini melulu subyektif dan karenanya tidak dapat diukur sebagai cerdas atau tidak, kecuali kualitas artistik yang berhubungan dengan indah-tidak indah, bagus-tidak bagus, pada akhirnya suka-tidak suka! Dan, dalam kerangka ekspresif, sastra dan seni adalah di dominasi oleh pengalaman, bakat dan intuisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menegaskan hal ini, dalam pemanfaatannya menurut TS Elliot bahwa dunia puisi dalam penikmatannya adalah lebih mengutamakan penghayatan baru kemudian pemahaman. Dengan begitu, lebih kepada keutamaan afektif daripada kognitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, pada akhirnya belakangan ini kebanyakan hanya hasil akhir yang menentukan sebuah karya, bukan proses. Tetapi, menurut saya seorang penulis atau penyair berbakat ‘biasanya’ mempunyai orisinilitas (bedakan dengan otentisitas) lebih daripada penulis atau penyair  sekedar bentukan. Atau dalam istilah exaggerate saya: orang berbakat lebih cerdas daripada orang cerdas dalam situasi yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali saya memang terlalu ortodoks, konservatif pun apriori dengan mengesampingkan pelatihan kecerdasan dalam proses peningkatan kualitas afektif dan menggolongkannya sebagai langkah buatan, instan, dan terlalu teknis. Bukan berarti kecerdasan tidak penting. Kecerdasan dalam pemanfaatan alat-alat bahasa, keketatan bahasa, dan gaya ungkap dalam kadar tertentu merupakan alat yang vital. Tetapi, bila basis kemampuan afektif  hanya bersumbu pada kecerdasan dan bertumpu melulu pada kemampuan teknis-teoritis; lalu  apa bedanya metode berkarya sastra dengan dunia ilmiah yang cenderung baku dan kaku. Yang pada akhirnya juga, hanya diserap dan dinikmati oleh kaum akademisi. Mungkin nantinya akan sulit kita temui anomali anak alam yang kaya endapan pengalaman seperti Wiji Tukul, Walt Whitman, ataupun Kartolo. Namun, sebaliknya, faktor kecerdasan justru memang sebaiknya lebih dimiliki oleh seorang kritikus atau teoris sastra dalam menjembatani struktur dalam diri sebuah karya sastra dengan konteks-konteks diluar dirinya. Tentu saja karena posisi kemajuan sastra juga berjalan beriringan dengan kritik maupun teori sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Bn&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7524617641697668733-7634017419000148255?l=warunge-cakbono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/feeds/7634017419000148255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7524617641697668733&amp;postID=7634017419000148255' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/7634017419000148255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/7634017419000148255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/2008/01/momentum-dan-kecerdasan-dalam-berpuisi.html' title='Momentum dan Kecerdasan dalam Berpuisi'/><author><name>Cak Bono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7524617641697668733.post-2018982545085398767</id><published>2007-12-19T04:26:00.000-08:00</published><updated>2007-12-19T04:28:05.071-08:00</updated><title type='text'>Iron Maiden-Metalik epik, dan absurdism Camus?</title><content type='html'>Iron Maiden-Metalik epik, dan absurdism Camus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal perkenalan saya dengan dunia sastra tak dapat dipungkiri&lt;br /&gt;bahwa selain lirik-lirik U2, lirik-lirik Iron Maiden juga merupakan&lt;br /&gt;sarana bagi saya untuk mengenal sastra jenis epik yang diusung oleh&lt;br /&gt;Iron Maiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Group band legendaris asal Britania Raya yang menginspirasi beberapa&lt;br /&gt;group rock Eropa maupun Amrik dengan style epiknya, sebut saja:&lt;br /&gt;Helloween, Manowar, Yngwie Malmsteen dan dalam skala tertentu&lt;br /&gt;musikalitas Megadeth-seteru Metallica itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narasi yang terkandung dalam lirik-lirik Iron Maiden berkisar tentang&lt;br /&gt;heroism, musik yang jantan begitu image yang ingin ditonjolkan. Meski&lt;br /&gt;tak 'segelap' Black Sabbath periode Roni James Dio, Alice Cooper,&lt;br /&gt;maupun The Cure dengan hantu-hantuannya, Iron Maiden juga terpengaruh&lt;br /&gt;dengan citra monster, tengkorak,Kekejian dan sadisme :&lt;br /&gt;to kill the unborn in the womb ( two minutes to midnight),&lt;br /&gt;dan beberapa judul-judul lain: The Number of the Beast, Wratchild,&lt;br /&gt;Run to the hills, Helowed be thy name, Power Slave, The Trooper Fear&lt;br /&gt;of the dark, Bring Your Daughter to slaughter!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan jantan dan keberanian memang menjadi core utama musik dan&lt;br /&gt;lirik Iron Maiden dan mengilhami beberapa Group Rock lainnya. Hingga&lt;br /&gt;yang Mutakhir: Dream Theatre, Blind Guardian dan ataupun speed neo&lt;br /&gt;klasikal metal eropa seperti Stratovarius dan Rhapsody yang&lt;br /&gt;menggabungkan unsur epik dengan musik metal yang megah dengan&lt;br /&gt;musik klasik, jadinya terdengar seperti "Pastoral ataupun Lamento&lt;br /&gt;Eroica"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik Rock 1980-an yang terkungkung oleh perang dingin itu seakan&lt;br /&gt;menjadi sebuah propaganda akan persiapan Amerika maupun Eropa Barat;&lt;br /&gt;karenanya menurut saya masa itu musik-musik kencang padat dengan&lt;br /&gt;menggali epik-epik heroik berkumandang berbarengan dengan ancaman&lt;br /&gt;perang Nuklir yang siap menjadikan manusia sebagai hantu-hantu atau&lt;br /&gt;tengkorak-tengkorak berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sejauh itu apakah Epik pada lirik-lirik Group metal ini&lt;br /&gt;sejenis dengan epik sastrawi? Macam Odysey, Mahabarata, ataupun&lt;br /&gt;Illiad? Jawabannya bagi saya relatif. Bahwa semangat Epik yang&lt;br /&gt;mendasari Group Metal itu memang bertujuan untuk menarik masa anak&lt;br /&gt;muda itu sepertinya menjadi hal yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pada suatu kesempatan sebelum membawakan lagu Aces high yang&lt;br /&gt;pada satu konsernya di Amerika-Long Beach arena (?) dibuka dengan&lt;br /&gt;salah satu pidato legendaris, dan ekspresif Winston Churchil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"We shall go on to the end...we shall fight with growing confindence&lt;br /&gt;and growing strenght in the air...we shall never surender!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang membangkitkan semangat positif yang mungkin kurang populer&lt;br /&gt;pada lirik-lirik musik metal sesudah er Maiden ini yang cenderung&lt;br /&gt;murung dan lebih didominasi oleh protes-protes : Metalica, Megadeth,&lt;br /&gt;Rage against the Machine hingga Sepultura. Bahkan semakin melow, dan&lt;br /&gt;sedih pada musik Rock alternatif ataupun Emo 1990'an-pada Era&lt;br /&gt;Nirvana, Cold Play, dan Radio Head- yang katanya cengeng itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iron Maiden tak hanya menampilkan lirik yang kuat dan heroik, tetapi&lt;br /&gt;siapa yang bisa menyangkal cabikan berenergi Basis Steve HAris,&lt;br /&gt;ataupun Vokal Bruce Dickinson? Meski pada akhirnya kini mereka&lt;br /&gt;semakin ompong dan kata sebagian anak muda sebagai 'Jadul' namun&lt;br /&gt;ada energi dan tak jaraang heroik pada nuansa musik mereka: Rock&lt;br /&gt;will never die ( sangatlah romantik dan ideologis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski barangkali tak begitu berhubungan namun lirik berikut sangat&lt;br /&gt;mebantu saya untuk mebayangkan membayangkan dengan lebih intens&lt;br /&gt;bagaimana seoarang 'Mersault' tokoh utama pada novelnya "The&lt;br /&gt;Stranger" bagaimana nuansa absurdisme pada seseorang yang akan&lt;br /&gt;menjalani suatu hukuman tanpa bisa mengerti kenapa takdir bisa&lt;br /&gt;menimpanya. Meski tak takut mati dan berani mengahadapi kematian tak&lt;br /&gt;urunng tokoh tersebut masih mepertanyakan absurditas suratan&lt;br /&gt;takdirnya. Berikut penggalan yang nuansa absurdnya sangat terasa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"As the guards march me out to the courtyard&lt;br /&gt;Someone calls from a cell "God be with you"&lt;br /&gt;If there's a God then why has he let me die?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IRON MAIDEN&lt;br /&gt;HALLOWED BY THY NAME Lyric&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'm waiting in my cold cell when the bell begins to chime&lt;br /&gt;Reflecting on my past life and it doesn't have much time&lt;br /&gt;Cos at 5 o'clock they take me to the Gallows Pole&lt;br /&gt;The sands of time for me are running low&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When the priest comes to read me the last rites&lt;br /&gt;I take a look through the bars at the last sights&lt;br /&gt;Of a world that has gone very wrong for me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Can it be there's some sort of error&lt;br /&gt;Hard to stop the surmounting terror&lt;br /&gt;Is it really the end not some crazy dream&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Somebody please tell me that I'm dreaming&lt;br /&gt;It's not so easy to stop from screaming&lt;br /&gt;But words escape me when I try to speak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tears they flow but why am I crying&lt;br /&gt;After all I am not afraid of dying&lt;br /&gt;Don't believe that there is never an end&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As the guards march me out to the courtyard&lt;br /&gt;Someone calls from a cell "God be with you"&lt;br /&gt;If there's a God then why has he let me die?&lt;br /&gt;As I walk all my life drifts before me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And though the end is near I'm not sorry&lt;br /&gt;Catch my soul cos it's willing to fly away&lt;br /&gt;Mark my words please believe my soul lives on&lt;br /&gt;Please don't worry now that I have gone&lt;br /&gt;I've gone beyond to see the truth&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When you know that your time is close at hand&lt;br /&gt;maybe then you'll begin to understand&lt;br /&gt;Life down there is just a strange illusion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rock is on the gallows pole&lt;br /&gt;Bono&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7524617641697668733-2018982545085398767?l=warunge-cakbono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/feeds/2018982545085398767/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7524617641697668733&amp;postID=2018982545085398767' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/2018982545085398767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/2018982545085398767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/2007/12/iron-maiden-metalik-epik-dan-absurdism.html' title='Iron Maiden-Metalik epik, dan absurdism Camus?'/><author><name>Cak Bono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7524617641697668733.post-6898610350108936421</id><published>2007-12-19T03:42:00.001-08:00</published><updated>2007-12-19T03:58:26.213-08:00</updated><title type='text'>*Waiting for saviour, and so send the massage in the bottle</title><content type='html'>*Waiting for saviour, and so send the massage in the bottle&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Message in a Bottle&lt;br /&gt;From the album Reggatta de Blanc (A&amp;M)&lt;br /&gt;Words and music by Sting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just a castaway&lt;br /&gt;An island lost at sea&lt;br /&gt;Another lonely day&lt;br /&gt;With no one here but me&lt;br /&gt;More loneliness&lt;br /&gt;Than any man could bear&lt;br /&gt;Rescue me before I fall into despair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'll send an SOS to the world&lt;br /&gt;I'll send an SOS to the world&lt;br /&gt;I hope that someone gets my&lt;br /&gt;I hope that someone gets my&lt;br /&gt;I hope that someone gets my&lt;br /&gt;Message in a bottle&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A year has passed since I wrote my note&lt;br /&gt;But I should have known this right from the start&lt;br /&gt;Only hope can keep me together&lt;br /&gt;Love can mend your life&lt;br /&gt;But love can break your heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'll send an SOS to the world&lt;br /&gt;I'll send an SOS to the world&lt;br /&gt;I hope that someone gets my&lt;br /&gt;I hope that someone gets my&lt;br /&gt;I hope that someone gets my&lt;br /&gt;Message in a bottle&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walked out this morning&lt;br /&gt;Don't believe what I saw&lt;br /&gt;A hundred billion bottles&lt;br /&gt;Washed up on the shore&lt;br /&gt;Seems I'm not alone at being alone&lt;br /&gt;A hundred billion castaways&lt;br /&gt;Looking for a home&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'll send an SOS to the world&lt;br /&gt;I'll send an SOS to the world&lt;br /&gt;I hope that someone gets my&lt;br /&gt;I hope that someone gets my&lt;br /&gt;I hope that someone gets my&lt;br /&gt;Message in a bottle&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-oOo-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alienasi, Kesendirian, dan Kematian Komunikasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lyric diatas bila boleh saya perbandingkan dengan karya analitik&lt;br /&gt;Samuel Beckett seperti Waiting for Godot, ataupun Pingpong kan bisa&lt;br /&gt;didapati kesejajaran thema, alienasi, kesendirian umat manusia, dan&lt;br /&gt;kematian komunikasi. Pada Waiting for Godot berujung pada penantian&lt;br /&gt;tanpa ujung sedangkan pada Message In the Bottle berujung pada&lt;br /&gt;kematian komunikasi-karena komunikasi tidak memberikan apapun selain&lt;br /&gt;hal yang sama alienasi(keterasingan), dan kesendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alienasi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia terasing dipanggung yang entah berantah, dimana Vladimir dan&lt;br /&gt;Estragon menghabiskan waktunya untuk menunggu entah apa yang&lt;br /&gt;ditunggu namun mereka sepakat untuk menyebutnya `Godot', seseorang&lt;br /&gt;atau sesuatu yang mengikat mereka untuk menunggu sampai akhir. Tentu&lt;br /&gt;tanpa Godot barangkali mereka sudahl bunuh diri, teralienasi,&lt;br /&gt;penyakit modernism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada syair The Police diatas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just a castaway&lt;br /&gt;An island lost at sea&lt;br /&gt;Another lonely day&lt;br /&gt;With no one here but me&lt;br /&gt;More loneliness&lt;br /&gt;Than any man could bear&lt;br /&gt;Rescue me before I fall into despair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hanya seorang yang terdampar yang diambang&lt;br /&gt;keputusasaan `despair' a castaway tanpa sejarah hanya terdampar&lt;br /&gt;saja; hari-hari penuh kesepian. Isu yang menyerang manusia modern&lt;br /&gt;sejak Nietzche mematikan Tuhan, sejak Tuhan bisu tuli kata Camus dan&lt;br /&gt;sejak manusia mengada bagi dirinya sendiri kata Sartre, etre pour soi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan para positivis, yang cenderung ekploitatif, Camus dan&lt;br /&gt;Beckett cenderung muram pesimistis, dan hal ini dilukiskan dengan&lt;br /&gt;gamblang oleh Sting. A castaway nearly fall into despair. Karena&lt;br /&gt;menyadari bahwa di dunia ini sendirian, tanpa Bapak, tanpa sejarah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesendirian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vladimir dan Estragon memang tidak sendirian seperti a castaway&lt;br /&gt;dalam syair tersebut diatas meski mereka juga bertemu dengan sang&lt;br /&gt;bocah pembawa pesan dari Godot, bertemu Pozzo dan Lucky yang&lt;br /&gt;menggambarkan mangsa dan pemangsa, eksploitasi satu terhadap yang&lt;br /&gt;lain. Sepertinya nyinyir kepada kaum modernis-positivis yang&lt;br /&gt;cenderung eksploitatif. Kembali mereka menyadari bahwa setelah tokoh-&lt;br /&gt;tokoh tersebut berlalu maka kembali mereka meringkuk dalam&lt;br /&gt;kesendirian, dalam penantian tak berujung, dalam ketidakpastian.&lt;br /&gt;Meski dalam situasi komedis tak urung berakhir tragis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi tragis itu harus mereka hadapi seperti tahun-tahun yang&lt;br /&gt;hilang, seperti Vladimir dan Estragon yang terserang lupa, seperti&lt;br /&gt;Milan Kundera yang terus berjuang melawan lupa. Dan hanya harapan&lt;br /&gt;yang membuat mereka bertahan. Dan kebersamaan tentunya akan berujung&lt;br /&gt;kepada kesendirian-dan cinta seperti cinta pisau dua mata,&lt;br /&gt;menyatukan atau memtahkan hatimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Only hope can keep me together&lt;br /&gt;Love can mend your life&lt;br /&gt;But love can break your heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya Sting yang berharap agar pesan dalam botolnya&lt;br /&gt;ditemukan seseorang yang kemudian diharapkan untuk memberikan&lt;br /&gt;pertolongan, ironisnya dia mendapatkan jutaan pesan yang sama hal&lt;br /&gt;yang sekaligus mengelikan, komedi tragis. Jutaan kemungkinan&lt;br /&gt;kebersamaan tidak merubah apapun karena manusia akan berakhir&lt;br /&gt;sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walked out this morning&lt;br /&gt;Don't believe what I saw&lt;br /&gt;A hundred billion bottles&lt;br /&gt;Washed up on the shore&lt;br /&gt;Seems I'm not alone at being alone&lt;br /&gt;A hundred billion castaways&lt;br /&gt;Looking for a home&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian Komunikasi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik adalah reffrain yang dipilih oleh Sting seakan&lt;br /&gt;merupakan penegasan usahanya melakukan komunikasi dengan dunia-&lt;br /&gt;sebuah tindakan untuk berkomunikasi, meski komunikasi tidak&lt;br /&gt;menghasilkan apapun untuk menolong situasinya, kembali reffrain&lt;br /&gt;diulang pada bagian akhir. Bahwa meski komunikasi itu sudah mati&lt;br /&gt;karena hanya berbuah kegagalan dan kesendirian lagi-namun usaha&lt;br /&gt;komunikasi itulah yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'll send an SOS to the world&lt;br /&gt;I'll send an SOS to the world&lt;br /&gt;I hope that someone gets my&lt;br /&gt;I hope that someone gets my&lt;br /&gt;I hope that someone gets my&lt;br /&gt;Message in a bottle&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Wairing for Godot, hal serupa juga seakan merupakan isu utama&lt;br /&gt;bahwa adegan slapstick, lucu, dan bagaimana Vladimir dan Estragon&lt;br /&gt;secara konsisten ber-Ping-Pong kata-kata adalah sebuah usaha mereka&lt;br /&gt;untuk sebuah komunikasi, tentu kita/penonton dan mereka akan&lt;br /&gt;terhibur dengan tingkah laku mereka, permainan hidup-datang dan&lt;br /&gt;perginya jutaan orang-orang lain- dalam memori kita dengan segala&lt;br /&gt;usaha komunikasi bisa saja melenakan kita dalam lupa bahwa manusia&lt;br /&gt;selalu akan berakhir senidiri, permukaan solider namun soliter dan&lt;br /&gt;teransing. Komunikasi menemukan kematiannya karena tidak&lt;br /&gt;menghasilkan pun memecahkan masalah tersebut, namun usaha untuk&lt;br /&gt;berkomunikasi sebagaimana bertukar kata ataupun bertukar pesan dalam&lt;br /&gt;botol, tetaplah menggelikan meski kenyataannya harus ironis-berakhir&lt;br /&gt;pada sepi. Untuk melewati penantian yang tak pasti dan seakan tak&lt;br /&gt;berujung, dan waktu menyerupai pusaran yang semakin kebawah semakin&lt;br /&gt;mengerucut dan mengurangi kualitas maupun kuatitas kita sebagai&lt;br /&gt;manusia toh tindakan berkomunikasi cukuplah menghibur meski tak&lt;br /&gt;memberikan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'll send an SOS to the world&lt;br /&gt;I'll send an SOS to the world&lt;br /&gt;I hope that someone gets my&lt;br /&gt;I hope that someone gets my&lt;br /&gt;I hope that someone gets my&lt;br /&gt;Message in a bottle&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Feb,06 Pada sebuah pulau terpencil&lt;br /&gt;Bn&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7524617641697668733-6898610350108936421?l=warunge-cakbono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/feeds/6898610350108936421/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7524617641697668733&amp;postID=6898610350108936421' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/6898610350108936421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/6898610350108936421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/2007/12/waiting-for-saviour-and-so-send-massage.html' title='*Waiting for saviour, and so send the massage in the bottle'/><author><name>Cak Bono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7524617641697668733.post-5591396116525663444</id><published>2007-12-19T03:24:00.000-08:00</published><updated>2007-12-23T07:20:06.736-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Novel Nagabonar: Yang dikatakan</title><content type='html'>Novel Nagabonar (Akmal Nasery Basral): Yang dikatakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah film, Nagabonar Jadi 2 boleh dikatakan&lt;br /&gt;sukses dan berani melawan arus yang sedang didominasi oleh film-film&lt;br /&gt;dengan tema horor ataupun cinta remaja. Mengedepankan tema kebangsaan,&lt;br /&gt;film ini menyodorkan ungkapan-ungkapan yang segar tentang hilangnya&lt;br /&gt;penghargaan diri sebagai manusia Indonesia. Dalam bungkus komedi film&lt;br /&gt;ini cukup mampu membawa nilai-nilai kritis atas kondisi kekinian&lt;br /&gt;Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski terasa romantis, ada wawasan kebangsaan yang coba&lt;br /&gt;dikomunikasikan oleh film ini. Film ini seperti oasis ditengah&lt;br /&gt;glamour budaya massa yang dipenuhi perayaan selebritas, hiburan,&lt;br /&gt;dimana ujung-ujungnya kebanyakan hanya berorientasi ekonomis semata.&lt;br /&gt;Barangkali, film Nagabonar Jadi 2 adalah salah satu contoh yang&lt;br /&gt;menarik mengingat kemampuannya dalam menegosiasikan idealisme dengan&lt;br /&gt;selera pasar; meskipun di beberapa daerah di luar Jakarta film ini&lt;br /&gt;boleh dikatakan tidak begitu berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel Nagabonar Jadi 2 diluncurkan menyusul sukses versi filmnya.&lt;br /&gt;Meski dengan resiko yang cukup besar mengingat kekuatan karakter&lt;br /&gt;Nagabonar dalam banyak hal masih dipengaruhi oleh idiom-idiom akting&lt;br /&gt;yang dimainkan oleh Dedy Miswar. Tetapi, sebenarnya karakterisasi&lt;br /&gt;Nagabonar dalam film sangat memungkinkan untuk diambil alih,&lt;br /&gt;direkonstruksi ataupun bahkan didekonstruksi oleh Akmal. Dengan&lt;br /&gt;begitu dalam pe-novelannya, penggambaran tokoh Nagabonar versi Akmal&lt;br /&gt;(authorial meaning) tidak perlu harus sejalan dengan tafsiran yang&lt;br /&gt;bisa dipetik oleh para pembaca-penonton dari karakter Nagabonar&lt;br /&gt;versi Dedy Mizwar sebagai sumber textual meaning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti kedua versi karakterisasi tersebut tidak bisa&lt;br /&gt;diperbandingkan. Tetapi, terlepas dari lebih berhasil atau lebih&lt;br /&gt;gagalnya; hal itu merupakan otonomi dari seorang novelis untuk&lt;br /&gt;mengungkapkan tafsirnya sendiri atas tokoh Nagabonar. Dan pada&lt;br /&gt;kenyataannya, dalam versi novelnya karakterisasi Nagabonar memang&lt;br /&gt;terasa berbeda. Selain dipengaruhi oleh perbedaan sudut pandang&lt;br /&gt;penokohan, juga intervensi pembacaan dan penafsiran Akmal terhadap&lt;br /&gt;tokoh Nagabonar itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter Nagabonar sempat diragukan rasionalitas sosiologisnya&lt;br /&gt;sebagai seorang Batak Toba, salah satunya adalah pemakaian ungkapan&lt;br /&gt;`Bujang' yang dianggap kurang realistis. Tapi sepertinya Nagabonar&lt;br /&gt;lebih bijak daripada film Maaf Saya Menghamili Istri Anda, karena&lt;br /&gt;secara eksplisit memakai nama salah satu marga Batak. Dalam kasus&lt;br /&gt;terakhir semestinya dipertimbangkan penamaan yang tidak terlalu&lt;br /&gt;refferensial. Dalam situasi masyarakat kita yang sensitif perlu&lt;br /&gt;pertimbangkan matang menyangkut kontekstualitas dan refferensial&lt;br /&gt;meski secara umum perlu dipahami bahwa hubungan antara karya sastra&lt;br /&gt;dan masyarakat dan kebudayaan sebaiknya dipahami sebagai hubungan&lt;br /&gt;yang lebih simbolik. Selain itu, realitas di dalam sebuah karya&lt;br /&gt;sastra sebaiknya pula dipahami sebagai realitas dalam kerangka&lt;br /&gt;fiksionalitas. Tetapi, dalam hal ini sebaiknya saya tidak terlalu&lt;br /&gt;jauh berpolemik dengan fakta, nonfiksi, fiksi, fiktif, fiksional&lt;br /&gt;ataupun fiktivitas dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebuah pengantar untuk kumpulan cerpen Akmal: Ada Seseorang di&lt;br /&gt;Kepalaku, Budi Dharma sempat menyinggung tentang Jarak estetik&lt;br /&gt;(esthetic distance), yang cenderung untuk lebih mengungkap situasi&lt;br /&gt;yang ada di balik situasi dan kondisi tertentu daripada mengungkap&lt;br /&gt;situasi dan kondisi tertentu sebagai situasi dan kondisi itu sendiri.&lt;br /&gt;Dalam beberapa hal, meskipun berusaha untuk merekonstruksi tokoh&lt;br /&gt;Nagabonar, Novel ini justru berkecenderungan untuk menungkap sisi&lt;br /&gt;Nagabonar sebagai adanya, dan lebih memilih untuk tidak menggunakan&lt;br /&gt;jarak estetis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nagabonar versi novel cenderung untuk mengungkap situasi dan kondisi&lt;br /&gt;yang dia alami, dan menanggapi situasi dan kondisi lebih kepada&lt;br /&gt;rangkaian peristiwa daripada makna di balik peristiwa. Hal ini&lt;br /&gt;mungkin disebabkan oleh kenyataan bahwa Akmal yang dikatakan&lt;br /&gt;mempunyai mata kronologis yang penuh kejelian, menghadapi tokoh&lt;br /&gt;Nagabonar dari perspektif lain. Yang, sedikit banyak juga membuat&lt;br /&gt;Nagabonar terasa menjadi lebih jeli, deskriptif, dan kuat dalam hal&lt;br /&gt;reportase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada versi film Nagabonar terkesan cerdik, tetapi dalam novel justru&lt;br /&gt;kesan cerdas lebih mengemuka. Contohnya adalah pemakaian istilah&lt;br /&gt;`split' untuk menggambarkan suatu gerakan dalam sepakbola. Atau, bisa&lt;br /&gt;pula dilihat pada halaman 138, dimana Nagabonar menyusun asumsi-&lt;br /&gt;asumsi sistematis dalam lima-enam nomor. Interior monolog yang&lt;br /&gt;dibangun oleh Akmal terasa agak kontras dengan ungkapan lugu, khas,&lt;br /&gt;cerdik dan lucu seperti: "Apa kata dunia!", atau contoh berikut: "&lt;br /&gt;Kalau tanya Bonaga, jawabannya berputar-putar. Tak jelas mana kepala&lt;br /&gt;mana ekor. Seperti mencari ketiak ular saja. Makanya aku tanya kau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujaran-ujaran tersebut justru lebih kuat dalam menyokong&lt;br /&gt;karakterisasi Nagabonar sebagai `Jenderal' informal yang cerdik,&lt;br /&gt;kurang berpendidikan, sekaligus humoris. Sementara, kecerdasan&lt;br /&gt;interior monolog dalam novel ini berpengaruh pada kekuatan dan&lt;br /&gt;kredibilitas karakter Nagabonar mengingat keutuhan karakter secara&lt;br /&gt;tradisional ditentukan oleh konsistensi dan keabsahan kualitas&lt;br /&gt;dimensi fisiologis, psikologis dan sosiologisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk Ignas Kleden, ada beberapa kemungkinan dalam sebuah novel&lt;br /&gt;atau cerpen, menilik siapa dan apa yang sebenarnya bercerita di&lt;br /&gt;dalamnya. Seorang pengarang sendiri yang berkata-kata langsung kepada&lt;br /&gt;pembacanya. Yang perlu diingat adalah, hal ini harus dibedakan dengan&lt;br /&gt;penyudut pandangan orang pertama. Pengarang dalam sudut pandangan&lt;br /&gt;manapun, bisa dikatakan bercerita sendiri dalam teksnya apabila teks&lt;br /&gt;lebih merupakan inskripsi (the writing down) dan lebih menyerupai&lt;br /&gt;notulen ucapan pembicara kepada pendenranya. Konsekuensinya, teks&lt;br /&gt;belum bisa berdiri sendiri tanpa rujukan dari pengarangnya. Dalam hal&lt;br /&gt;ini menurut Ignas Kleden, hubungan pembicara-pendengar belum bisa&lt;br /&gt;diubah secara berhasil menjadi hubungan antara teks dan pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi dalam sebuah novel atau cerpen justru cerita itu sendiri&lt;br /&gt;yang banyak bercerita dengan kekuatannya sendiri tanpa bantuan dari&lt;br /&gt;pengarang. Naratif cerita bisa langsung berhubungan dengan pembaca&lt;br /&gt;karena lebih menekankan pada apa yang terjadi dalam sebuah novel&lt;br /&gt;tanpa banyak intervensi ataupun rujukan dari pengarang. Atau, justru&lt;br /&gt;suasana yang lebih banyak bercerita yang mana lebih memungkinkan&lt;br /&gt;kepada pembaca untuk menghayati bagaimana sesuatu terjadi. Dan, apa&lt;br /&gt;yang terjadi lebih dilukiskan sebagai bayangan yang tersirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, salah satu indikasi intervensi dan keterlibatan seorang&lt;br /&gt;pengarang bisa dilihat dari dimensi khusus hubungan yang ingin&lt;br /&gt;diciptakan oleh seorang pembicara melalui jenis tindak ujaran. J.L&lt;br /&gt;Austin membedakannya sebagai: tindak lokusioner (locutionary act),&lt;br /&gt;tindak ilokusioner (illocutionary act), dan tindak perlokusioner&lt;br /&gt;(perlocutionary act). Inskripsi (writing down) biasanya&lt;br /&gt;mengindikasikan tindak lukosioner yang kuat, dimana bahasa lebih&lt;br /&gt;tampil sebagai gagasan-gagasan konseptual yang deskriptif, definitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat saya, pada novel Nagabonar, tindak ujaran lokusioner (saying&lt;br /&gt;something) lebih sering ditemui daripada tindak performatif-&lt;br /&gt;ilokusioner (doing something in saying) ataupun perlokusioner (&lt;br /&gt;yielding effect by saying). Barangkali salah satu contohnya adalah&lt;br /&gt;bahwa Akmal lebih suka menyebut `split' daripada menggambarkan suatu&lt;br /&gt;gerakan dalam sepakbola. Atau monolog yang terkesan cerdas berikut&lt;br /&gt;ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;`Bung Karno dan Bung Hatta, dua pribadi yang sangat berbeda. Tapi&lt;br /&gt;mereka menggunakan semua perbedaan itu untuk saling melengkapi,&lt;br /&gt;menggenapi, dan mendatangkan manfaat bagi bangsa ini. Bukan untuk&lt;br /&gt;saling berkonfrontasi, saling menjatuhkan, seperti kebiasaan&lt;br /&gt;politisi.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali monolog tersebut akan lebih tertolong bila lebih&lt;br /&gt;menggunakan pola pemikiran yang lebih sederhana, dan cerdik daripada&lt;br /&gt;pemikiran yang terkesan konseptual dengan pengistilahan yang canggih.&lt;br /&gt;Dengan begitu pembaca akan seringkali lebih berhadapan dengan&lt;br /&gt;pengarang yang medistorsi kekuatan film Nagabonar menjadi lebih&lt;br /&gt;literal. Konsekuensinya, konsistensi dan kekuatan karakter Nagabonar&lt;br /&gt;versi film kurang begitu hidup dalam novelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari hal tersebut adalah hal yang kurang arif bila menafikan&lt;br /&gt;kenyataan bahwa versi novel Nagabonar Jadi 2 boleh dikatakan sukses&lt;br /&gt;dengan indikasi bahwa novel ini diklaim setidaknya telah mencapai&lt;br /&gt;cetakan ke tiga dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan saja. Sangat&lt;br /&gt;masuk akal menyusul sukses versi filmnya yang bertahan beberapa&lt;br /&gt;minggu di bioskop-bioskop ibukota. Hal ini tidak bisa dianggap sepele&lt;br /&gt;dan merupakan suatu petanda bahwa Nagabonar meninggalkan pengaruh&lt;br /&gt;kepada audiensnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini perlu mempertimbangkan paradigma pembaca/pemirsa aktif,&lt;br /&gt;bahwa pemirsa/pembaca harus dipahami sebagai penghasil makna yang&lt;br /&gt;aktif dan pintar. Dengan begitu pemirsa/pembaca dianggap bukan&lt;br /&gt;sebagai sekedar obyek dan pelengkap kultural semata tetapi juga&lt;br /&gt;subyek dan pencipta makna yang aktif dari konteks kultural mereka&lt;br /&gt;sendiri. Sejalan dengan itu, M.H. Abrams menyebutnya sebagai&lt;br /&gt;pendekatan pragmatis, yaitu karakteristik pendekatan analisis sastra&lt;br /&gt;yang memandang penting hubungan antara teks sastra dengan pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja akan ditemui tingkatan dan wawasan dari para pembaca&lt;br /&gt;berkaitan dengan latar belakang pendidikan, psikologis, ekonomi,&lt;br /&gt;sosial, kultural yang mempengaruhi sikap dan pembacaan mereka. Tetapi&lt;br /&gt;dalam prosesnya, para pembaca berkecenderungan untuk mengidentifikasi&lt;br /&gt;atau bahkan mengkontradiksi dirinya dengan tokoh-tokoh tertentu.&lt;br /&gt;Lebih jauh menurut Ang, fiksi adalah suatu cara menikmati pengalaman&lt;br /&gt;kekinian yang bergerak bolak-balik antara keterlibatan dan mengambil&lt;br /&gt;jarak; penerimaan dan protes (Barker, 2000:359). Biasanya, dalam&lt;br /&gt;proses identifikasi atau kontradiksi tersebut harapan pembaca adalah&lt;br /&gt;mendapatkan kejutan-kejutan dari peilaku dan ucapan-ucapan tokoh-&lt;br /&gt;tokohnya. Tak pelak karena unusr suspense-surprise adalah hal&lt;br /&gt;mendasar bagi sebuah novel, dengan begitu terjadi tegangan antara&lt;br /&gt;harapan pembaca dengan teks yang dibacanya yang lalu menimbulkan&lt;br /&gt;penerimaan atau bahkan penolakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh Nagabonar sendiri cukup menjanjikan hal tersebut, apalagi&lt;br /&gt;dengan suasana rekreatif dan angin komedis yang dibawanya. Hal ini&lt;br /&gt;membuat karakter Nagabonar sendiri menjadi begitu kuat dan khas. Dan&lt;br /&gt;karena bentuknya yang fiktif membuatnya lebih bergerak bebas&lt;br /&gt;mempermainkan kesadaran, konvensi dan kultur. Hal ini bisa jadi&lt;br /&gt;membuat pembaca tertawa akibat refleksi yang diproyeksikan oleh tokoh&lt;br /&gt;Nagabonar yang menjadi sarana pelepasan inhibisi para pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi pembaca terhibur oleh kecerdikan seorang pencopet pasar&lt;br /&gt;yang dalam sekejap menjadi seorang jenderal karena dijatah oleh&lt;br /&gt;kawannya, sementara Bujang protes mendapat pangkat sersan. Status&lt;br /&gt;kepangkatan Nagabonar sendiri potensial menimbulkan ketegangan,&lt;br /&gt;penerimaan-penolakan, apalagi Nagabonar sendiri hanyalah seorang&lt;br /&gt;tukang copet pasar. Lalu apalah arti sebuah pangkat Jenderal, bila&lt;br /&gt;secara informal, metal kebangsaan, dan kearifannya sang Nagabonar&lt;br /&gt;memiliki kualitas `Jenderal'. Barangkali, ada juga pembaca/penonton&lt;br /&gt;yang mengidentifikasi diri sebagai Tora'Bonaga'Sudiro, atau&lt;br /&gt;Wulan'Monita'Guritno dengan hubungan romantis komedis mereka. Selain&lt;br /&gt;konflik Nagabonar-Bonaga, konflik Bonaga-Monita juga ikut mengikat&lt;br /&gt;tokoh-tokoh kunci ke dalam suatu permainan suspense.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan dan subyektif suasana Nagabonar Jadi Dua ini&lt;br /&gt;terasa segar dan rekreatif, meski tema berat dan penting tentang&lt;br /&gt;kebangsaan terkesan masih terlalu didramatisir. Semangat dalam&lt;br /&gt;berkebangsaan boleh jadi mendapatkan maknanya yang baru, ketika&lt;br /&gt;ternyata mau tak mau Nagabonar harus menerima kenyataan bahwa Bonaga&lt;br /&gt;bekerjasama dengan perusahaan Jepang salah satu bekas penjajah. Atau,&lt;br /&gt;para insan Indonesia yang hilang ingatan atas jasa-jasa dan&lt;br /&gt;perjalanan penuh liku sejarah dan pelakunya, yang diwakili oleh&lt;br /&gt;simbol Patung Sudirman yang bersikap tegap terus menghormat kepada&lt;br /&gt;mahluk-mahluk tak peduli pengejar materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan versi film, tentunya dalam membaca novel Nagabonar ini&lt;br /&gt;para pembaca harus benar-benar siap dengan perspektif yang cenderung&lt;br /&gt;lebih `cerdas' dan eksplisit lokusioner dari Akmal. Tetapi perlu&lt;br /&gt;dicatat bahwa sekali lagi, setidaknya, film dan novel ini memberikan&lt;br /&gt;warna dan mampu menegosiasikan idealisme dan sisi komersil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Bn&lt;br /&gt;(ngibul lagi...tarik terus!)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7524617641697668733-5591396116525663444?l=warunge-cakbono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/feeds/5591396116525663444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7524617641697668733&amp;postID=5591396116525663444' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/5591396116525663444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/5591396116525663444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/2007/12/novel-nagabonar-yang-dikatakan.html' title='Novel Nagabonar: Yang dikatakan'/><author><name>Cak Bono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7524617641697668733.post-1283101199055692612</id><published>2007-03-27T00:19:00.000-07:00</published><updated>2007-12-15T07:42:59.941-08:00</updated><title type='text'>Review Buku, Bicara Dengan Sayap-Mila Duchlun</title><content type='html'>Bicara Dengan Sayap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Perempuan Bersayap&lt;br /&gt;Penerbit : Qhumaira Production&lt;br /&gt;Hal : xxvii + 83&lt;br /&gt;Penulis : Mila Duchlun&lt;br /&gt;Cetakan : Juli, 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mila Duchlun, perempuan penyair asal Riau. Seorang penyair bersayap&lt;br /&gt;yang pernah tinggal di negara kepulauan Maldives, tempat dimana&lt;br /&gt;pernah dia tak hanya bersayap tetapi sekaligus bersirip karena sempat&lt;br /&gt;menyelam di kedalaman laut demi puisi! Momen yang romantis untuk&lt;br /&gt;sebuah puisi bahkan bisa jadi hero(in)is bagi bangsanya. Perempuan&lt;br /&gt;penyair berkebangsaan Indonesia menuliskan puisinya danh mengibarkan&lt;br /&gt;sang saka Merah Putih di kedalaman 17 meter dan menulis puisi berjudul&lt;br /&gt;Bendera di dasar samudera Hindia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah peristiwa yang bisa ditanggapi sebagai momen yang bersayap&lt;br /&gt;seperti sifat puisi yang bisa jadi sangat ambigu, polisemis, paradoks&lt;br /&gt;dan ironis. Seorang Mila Duchlun sepertinya adalah puisi itu sendiri,&lt;br /&gt;sebagaimana seorang perempuan bersayap ternyata juga bersirip; dari&lt;br /&gt;kata-katanya yang bersayap dalam puisi, aksinya bisa juga merupakan&lt;br /&gt;sebuah aksi `bersayap', bermakna ganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna yang bisa diartikan banyak hal termasuk sebagai ironisme.&lt;br /&gt;Seiring dengan sikap dan cintanya kepada Republik ini yang terkadang&lt;br /&gt;terasa sangat kritis, tak jarang diungkapkannya dengan emosi yang&lt;br /&gt;meluap-luap, keadilan yang terbelenggu di negeri ini, sekaligus nasib&lt;br /&gt;kaumnya yang masih saja tertindas ditanah Merah Putih. Seperti kita&lt;br /&gt;tahu bahwa negeri yang tengah carut-marut ini lagi disesaki oleh air&lt;br /&gt;mata akibat masalah dan kepungan bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali kebanggannya kepada tanah air dan puisi, memang Mila tidak&lt;br /&gt;bermaksud untuk mengungkapkan ironisme tentang tanah airnya. Tetapi&lt;br /&gt;peristiwa itu bisa saja menginspirasikan gambaran bahwa sebagai negara&lt;br /&gt;kita bisa tenggelam di samudera yang luas bila tidak bersegera&lt;br /&gt;menggibarkan Sang Saka Merah Putih di langit biru! Dan, bila tidak&lt;br /&gt;banyak lelaki yang sanggup para perempuan pun sanggup menggibarkan&lt;br /&gt;Sang Saka merah Putih meski didasar laut sekalipun :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bendera :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisiku bara dalam nafas sang saka&lt;br /&gt;Menusuk keheningan Samudera Hindia&lt;br /&gt;Ikan menyingkir segala menjadi gigil&lt;br /&gt;Melesat secepat kilat&lt;br /&gt;Tak henti sampai angin penat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat warnaku&lt;br /&gt;Dua warna berpadu, meramgkul tujuh belas ribu pulau&lt;br /&gt;O, apa masih ingin kau khianati aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bom mengoyak raga&lt;br /&gt;Tak akan habis usiaku, karena beribu nyawa menggila&lt;br /&gt;Dalam jantungku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Underwater 200306/11.30 am&lt;br /&gt;Male, east male Atoll, Indian Ocean,&lt;br /&gt;Republic of Maldives&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi yang heroines dan bernuansa nasionalis, sesuatu yang mulai&lt;br /&gt;tenggelam ditengah maruknya para terhormat, dan peristiwa ini bisa&lt;br /&gt;jadi inspiratif dan bersayap. Sungguh sebagai bangsa dan barangkali&lt;br /&gt;juga sebagai lelaki bahunya seakan lelah dan sempoyongan menopang Sang&lt;br /&gt;Saka. Dalam beberapa puisi terasa semangat nasionalisme yang&lt;br /&gt;barangkali justru semakin menguat karena jauh dari pelupuk mata,&lt;br /&gt;simak: Aku Kereta Tempo Dulu, Baret Ungu, Syair Negeri Elok Rintihnya&lt;br /&gt;Terseok, ataupun Dari Tengah Hutan Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan rasa nasionalisme, sekaligus berikan kesempatan kepada kaum&lt;br /&gt;kami begitu kira-kira sorak kritis sang Perempuan bersayap yang harus&lt;br /&gt;menempuh ribuan kilo meter sebagai TKW, sungguh ironisme bahwa di&lt;br /&gt;negara yang `bukan lautan…hanya kolam susu' ini kaum perempuannya&lt;br /&gt;harus berjibaku demi tonggak keluarga, dan barangkali juga tonggak&lt;br /&gt;negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru dengan sayapnya ini banyak hal yang mestinya bisa dipuisikan&lt;br /&gt;oleh seorang Mila, petualangan-petualangan, perjalanan, resapan dan&lt;br /&gt;lukisan-lukisan yang bertebaran di badan pengalamannya merupakan&lt;br /&gt;nukleus yang potensial bagi pengalaman puitiknya, yang brangakali&lt;br /&gt;sangat berguna bagi tugas dan tulang punggung kepenyairannya di&lt;br /&gt;kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca puisi-puisi yang ekspresif dengan inspirasi langit, tanah,&lt;br /&gt;matahari, api, sepi, cinta dan laki-laki sedikit banyak memberikan&lt;br /&gt;ilustrasi dari puisi-puisinya yang mengalir begitu saja, yang polos,&lt;br /&gt;naif dan bahkan sentimen. Yah, sentimen, coba amati pada puisi: Aku&lt;br /&gt;yang Miskin, ataupun Ingin Kucakar wajahmu! Dengan bahasa yang lugas&lt;br /&gt;dan maksud yang jelas Mila menumpahkan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya beberapa puisi memang tumpahan emosi yang paling efektif&lt;br /&gt;sebagai teman di negeri jauh, berteman pantai, samudera, hujan seperti&lt;br /&gt;pintanya pada Roh-roh Pujangga. Ah Perempuan memang rembulan penghias&lt;br /&gt;malam, di tengah gejolak dia tetaplah perempuan, negeri yang begitu&lt;br /&gt;sangsi ketika di puji:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku Perempuan Bukan Bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku perempuan&lt;br /&gt;Jiwaku tidaklah berlipstik&lt;br /&gt;Hatiku tidak berparfum&lt;br /&gt;Buah dadaku tidaklah besar&lt;br /&gt;Sama sekali tidak menarik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya bumiku sangsi&lt;br /&gt;Mengapa langit jatuh cinta padaku&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku ingin tahu&lt;br /&gt;Mengapa langit rela membungkuk&lt;br /&gt;Hanya untuk mengecup kulit hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku perempuan bukan bulan&lt;br /&gt;Bertanya padamu wahai langit&lt;br /&gt;Adakah sesuatu pada diriku&lt;br /&gt;Hingga kau rela melepaskan awanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi yang tidak perlu disikapi berlebih tetapi resapi saja&lt;br /&gt;ke'biasaannya', banalitasnya. Terlepas dari kepolosan puitiknya,&lt;br /&gt;Mila, sebagai penyair `muda' sangat berpotensi masih panjang&lt;br /&gt;pengalaman yang menanti untuk digali dengan lebih puitis. Terlebih&lt;br /&gt;dengan modal pengalaman perjalanan yang kaya; sungguh merupakan energi&lt;br /&gt;potensial yang mengendap dan siap untuk dibangunkan kapan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan buku kumpulan puisi pertama ini memang semacam&lt;br /&gt;tonggak awal yang bisa dinilai dan disikapi secara bebas oleh&lt;br /&gt;pembacanya.Degan memperhatikan tema dan pergerakan emosi yang terjadi&lt;br /&gt;saat pembacaannya. Seringkali emosi pembacaan terasa terganggu oleh&lt;br /&gt;tema dalam puisi yang berseliweran tak merata di badan buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat belum puas menikmati panorama alam harus tiba-tiba coitus oleh&lt;br /&gt;desahan rindu dendam cinta, dan belum lagi tuntas harus mengernyitkan&lt;br /&gt;dahi dengan persoalan kebangsaan, negara dan sosial, dan kemudian&lt;br /&gt;kembali lagi menghadapi rindu dan cinta yang sentimental. Dengan&lt;br /&gt;perpindahan nada puisi yang menyentak: dari nada cinta romantis&lt;br /&gt;elankolis, mendadak nasionalis, ataupun tiba-tiba menjadi&lt;br /&gt;sentimentalis dan sedetik menjadi emotif berkobar-kobar dengan&lt;br /&gt;semangat kritisisme, sepertinya akan mempengaruhi tempo dan emosi&lt;br /&gt;pembacaan pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu Mila sebagai perempuan adalah memang puisi, apalagi&lt;br /&gt;dengan sayapnya yang siap mengembang membelah samudera itu. Dan,&lt;br /&gt;rasakan pengalaman terbangnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7524617641697668733-1283101199055692612?l=warunge-cakbono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/feeds/1283101199055692612/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7524617641697668733&amp;postID=1283101199055692612' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/1283101199055692612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/1283101199055692612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/2007/03/review-buku-bicara-dengan-sayap-mila.html' title='Review Buku, Bicara Dengan Sayap-Mila Duchlun'/><author><name>Cak Bono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7524617641697668733.post-1424705648931339077</id><published>2007-03-21T01:01:00.000-07:00</published><updated>2007-03-21T01:03:19.260-07:00</updated><title type='text'>Review Buku: Sirkuit Balap Akmal</title><content type='html'>Sirkuit Balap Akmal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Ada Seseorang di Kepalaku Yang Bukan Aku&lt;br /&gt;Penerbit : Ufuk Press, Jakarta&lt;br /&gt;Hal  : 268&lt;br /&gt;Penulis  : Akmal Nasery Basral                             &lt;br /&gt;Tahun  : 2006 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pengembaraan seorang Akmal dimulai pada novel bergaya detektif  Imperia, kumpulan cerpennya menyusul dengan gaya yang relatif lebih kaya. Apakah memang Akmal lebih leluasa bermain dalam cerpen ketimbang novel? Atau kemungkinan eksplorasi yang lebih luas, atau bentuknya yang lumayan padat dan ekspresif membuatnya tertarik untuk mengembara dalam rimba cerpen dengan kemungkinan penggayaan yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan novelnya, cerpen-cerpen Akmal yang dikatakan Budi Darma sebagai seimbang dan merupakan putusan yang bijak bagi Akmal dalam menyeimbangkan tutntutan isi dan bentuk, terkesan membawa anasir-anasir metaforis maupun simbolik yang lebih kental. Pada novel pertamanaya Akmal berkecenderungan untuk ensiklopedis. Hal yang mungkin sangat tidak terlalu mendominasi pada kumpulan cerpen ini; namun alusi dan referensi yang mengacu kepada dunia populer dan gaya hidup masih merupakan spektrum yang dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermodal cara bertutur yang lancar, dengan kalimat-kalimat yang efektif, dengan perbandingan-perbandingan yang cerdas tak jarang menggelitik. Dunia jurnalistik, dunia populer, dan arus informasi berkecepatan tinggi sepertinya membuatnya untuk lebih tidak memperhatikan jarak estetis. Kontekstual lebih mengemuka, dan fakta lebih penting dari motivasi. Peristiwa-peristiwa dikemasnya tak jarang dengan ujung yang mematahkan harapan pembacanya, menjauhkan harapan pembacanya. Kata Dedy Mizwar membawa ke lorong imaji yang terkadang agak gila namun berakhir mengejutkan syaraf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ada benarnya secara Akmal adalah juga wartawan yang menurut tengara Budi Darma pada akhirnya sadar-tak sadar telah mengambil sudut pandang dari profesinya itu. Dimana karena kecepatan laju informasi, yang dengan demikian mengharuskannya  berhadapan secara terus-menerus dengan peristiwa yang datang silih berganti dalam kecepatan yang lebih tinggi. Pada akhirnya semua peristiwa yang dihadapinya terkesan menjadi biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kesederhanaan berbahasanya, ‘Ditengah riuh rendah permainan bahasa Akmal tampil tak jumawa… Bahasa yang tak angkuh. Alur yang tak bersolek.’  Dan karena isi kumpulan cerpennya sederhana maka untuk mengimbanginya Akmal menyediakan bentuk yang sederhana pula. Lebih jauh ada pula pendapat yang menyatakan bahwa Akmal berhasil membuat konteks-konteks kecil dari esensi ide-ide yang besar. Memandang esensi-esensi ide-ide atau peristiwa-peristiwa besar dalam kacamata yang sederhana. Bahkan Akmal sendiri seakan menegaskan dalam pernyataanya bahwa kesederhanaan adalah mutiara bercerita yang sulit ditemukan pada dunia sastra Indonesia mutakhir. Dimana, dunia sastra menjadi semacam sirkuit balap mobil secara para pernulis seakan berlomba sebagai yang pertama dalam pencapaian estetis, eksperimentasi bentuk, atupun lebih tegas dalam mengartikulasikan hal-hal yang sebelumnya dianggap tabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dengan demikian, apakah pada kumpulan cerpen-cerpen AsdK juga mengutamakan kesederhanaannya pada alusi, atau referensi yang dikatakan menyusu pada budaya pop itu? Sepertinya Akmal menghindari sebuah sirkuit balap untuk kemudian menciptakan sirkuit balapnya sendiri. Sirkuit dimana lintasan literatur ‘tinggi’ sastra dibenturkan dengan ikon-ikon populer, lagu-lagu pop, bahkan tehnik iluustrasi a la komik Jepang. Sirkuit Balap Akmal berpacu dengan timbunan informasi literatur, budaya pop, dan permainan estetis a la posmo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleksitas kumpulan cerpen yang mayoritas alusi maupun refferensinya pada budaya pop justru terletak pada pemahamannya yang kaya dan dekat dengan informasi  budaya pop dan gaya hidup itu sendiri. Barangkali, hal inilah yang dilewatkan oleh seorang Budi Darma. Timbunan informasi yang terkesan ‘dalam’ dari seorang Akmal. Tentunya tak semua penulis bisa merasakan kedalaman pada budaya pop tanpa terlibat atau menjejak pada arus informasi. Dalam pada itu, contoh yang menarik barangkali bisa dilihat pada: Fiona Benci Paul Anka. Tanpa, mempunyai refferensi tentang Paul Anka, tentunya tidak mudah menangkap ironi yang coba ditonjolkan. Membayangkan Paul Anka menyanyikan Smell Like Teen Spirit, ataupun Paul Anka bergaya Michael Jackson tentu akan terasa ironis dan parodis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca diajak balapan di dunia populer, sekaligus diberikan rambu-rambu dan jejak-jejak literatur ‘sastra tinggi’ yang menjadi bacaannya. Mungkin benar bahwa bentuk maupun isi AsdK  cenderung sederhana dalam ukuran isi estetis tinggi karena muatannya cenderung merangsang insight into life, moral, dan atau meaningful. Sastra pop yang seringkali dan cenderung masih digeneralisasi sebagai sastra hiburan yang pada akhirnya tidak meninggalkan kesan serius, dengan demikian dianggap bukan pemikiran dan karena itu tidak menmbah wawasan kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kasus demikian sepertinya tidak terlalu saya temukan dari pembacaan terhadap AsdK. Bahwa, dunia pop yang diusungnya sangat cair, bukan berarti bahwa sebuah cerpen berakhir tanpa wawasan, kesan, ataupun moral. Barangkali benar bahwa Akmal cenderung menghindari resolusi yang memberikan justifikasi, ataupun menjadi moralis; meski masih terasa sangat humanis bernada romantis pada resolusi cerpen Boyon: ‘Seaneh apapun ayah  yang ia hadiahkan adalah segunung cinta . Aku saja yang terlambat melihat. Pesan moral yang sangat transparan, memang terkesan menggurui tetapi karena alusi maupun referensi yang digunakan menyusu pada budaya pop: Film, James Bond atau Catatan si Boy, memang membuatnya secara keseluruhan terkesan parodis dan ringan; tetapi apakah cerpen ini tidak meninggalkan pesan moral, ataupun wawasan, tentunya jelas sekali.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa cerpen yang lain nampak juga bahwa Akmal berusaha menjaga resolusi yang moralitas humanis, dari kacamata sosiologis maupun  ideologis meski dengan kendara ungkap yang masih ngepop: Perkabungan Hujan, Seekor Ikan Hiu di Cangkir Kopi maupun Prolog Kematian. Tak jarang dia terasa lebih berkendara dengan tehnik penceritaan yang serius seperti pada: Legenda Bandar Angin, Lelaki yang Berumah di tepi Pantai, dan Ada seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku. Tetapi pada kesempatan lain Akmal justru tampil benar-benar ngepop benar seperti pada Lelaki Gagah, ataupun Kelambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali benar adanya Akmal berjalan pada koridor kontekstual, atau bertumpu lebih kepada happening, pun terkesan hanya bergelut dengan permukaan. Mozaik cerpen yang tersusun seperti perca-perca dari esensi fenomena, dan ide-ide besar, dan ditutrkan dengan gaya mengalir, ringan dan bahasa yang tak ribet. Tetapi yang membuatnya terkesan ‘pamer’ adalah kecanggihan informasi yang dibawanya seperti: Ikan Pari mengakibatkan tragedi Nasional karena telah membunuh seorang pesohor yang membuat seorang perdana menteri ikut berduka karenanya. Penggayaan, bombas, exagerate dalam bentuk informasi pengetahuan umum dengan basis jurnalistik sepertinya dengan sendirinya menggambarkan sosok Akmal yang memang wartawan atau jurnalis dengan bekal kecanggihan, kecepatan, ensiklopedi pengetahuan umum, serta budaya pop yang happening. Kemudian tak lupa membungkusnya dengan distorsi dan penggayaan informasi. Hal mana yang barangkali sangat dipahaminya dari kedekatannya dengan dunia industri media Disinilah Akmal mencoba membuat sirkuit balapnya sendiri: arena distorsi penggayaan informasi dan media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam bentuk luarnya, barangkali seperti halnya penulis lain Akmal juga ikut larut dalam perayaan bentuk-bentuk mutakhir. Penulis adalah juga anak jaman, dan merefleksikan jamannya. Eklektik gaya estetis posmo meskipun jejak estetis modern masih terasa. Berkenaan dengan asumsi bentuk yang terkesan sederhana dan ngepop barangkali pendekatan yang sesuai untuk melihat ciri-ciri kompleksitas dan kelebihannya cenderung kepada gaya estetis posmo.  Hal ini disebakan karena pendekatan modernis yang mengagungkan kebaruan, keotentikan, formalisme, dan fungsionalisme yang kebanyakan akan gagap dalam mengkaji karya dengan gaya posmo meminjam istilah Yasraf sebagia berkecenderungan untuk ironis, skizofrenik, hibrid, bahkan sinkretis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, seperti pada umumnya seni posmo, pendekatan sastra posmodernis terhadap gaya lebih banyak tertumpu pada pada penolakan atas konsep formalisme dengan form follows function-nya. Perlawanan ini dilakukan melalui bentuk-bentuk yang ironis, skizofrenik, dan sinkretis. Mempermainkan keseriusan formalisme, mempermainkan gaya sebagai komunikasi ironis. Dimana bukannya makna-makna dari pesan-pesan yang dikedepankan melainkan sirkuit balap kegairahan dalam permainan bebas tanda-tanda, kode-kode plesetan, humor dan kritik. Memperlakukan gaya tidak sebagai suatu bentuk kemajuan dan otentisitas melainkan sebagai bentuk eklektikisme, dengan kombinasi dari berbagai gaya, jenis kesenian, seniman, maupun periode, dan menjadikannya sebagai gaya yang ‘terkesan’ baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kumcer ini, sepertinya alusi maupun refrensi pop bukanlah bernilai sederhana tetapi bisa jadi merupakan suatu bentuk perlawanan atas kemapanan dari budaya tinggi, setidaknya membenturkan, ataupun membaurkan sastra tinggi dan budaya populer dalam semangat pluralisme. Unsur eklektik juga banyak menjadikan banyak bentuk  kesenian sebagai  inspirasi, film, lagu, lukisan dan bahkan digambarkan pada ilustrasi-ilustrasinya dimana kesan gaya komik ‘Jepang’ juga ikut meramaikan ruang estetis kumpulan cerpen ini. Bahkan sampul depan secara estetis menggambarkan kesan posmo tersebut, gedung bergaya klasik tetapi tingkat, mengesankan gaya masa lalu yang dicabut dari asalnya untuk dipertemukan dengan fungsi kekiniannya dalam penggayaan. Dan, karena pencampur adukan berbagai gaya dan pengaruh, maka  mengesankan kebanyakan cerpen Akmal ini yang menurut Budi Darma menjauhkan diri dari harapan pembacanya dalam merebut makna. Apapun bisa, apapun tak bisa, apapun biasa saja, apapun tak biasa saja. Masih tersedia begitu banyak ruang pemaknaan pada sirkuit balap posmo, dan sepertinya Akmal juga ikut berpacu didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Bono AJ&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7524617641697668733-1424705648931339077?l=warunge-cakbono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/feeds/1424705648931339077/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7524617641697668733&amp;postID=1424705648931339077' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/1424705648931339077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/1424705648931339077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/2007/03/review-buku-sirkuit-balap-akmal.html' title='Review Buku: Sirkuit Balap Akmal'/><author><name>Cak Bono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7524617641697668733.post-7868423894489909793</id><published>2007-03-21T00:56:00.000-07:00</published><updated>2007-03-27T00:13:00.090-07:00</updated><title type='text'>Review Buku: Di Tikungan Puisi</title><content type='html'>Di Tikungan Puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Di Lengkung Alis Matamu&lt;br /&gt;Penerbit : AKAR, Indonesia&lt;br /&gt;Hal  : viii + 110&lt;br /&gt;Penulis  : Johanes Sugianto                             &lt;br /&gt;Tahun  : 2006 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;… a poet is nightingale who sit in darkness&lt;br /&gt;and sing to cheer its own solitude with sweet sounds…&lt;br /&gt;-Percy Byssche Shelley-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kumpulan puisinya ini Yo tampil liris dengan ekspresi yang personal. Hadir ditengah keraguan akan keindahan puisi. Puisi terasa menjadi begitu sulit dan liar, dan terlalu cerdas untuk sekedar dinyayikan di pojok gelap. Puisi-puisi ringan saja, barangkali itu yang coba disuarakan oleh seorang Yo. Tangkapan-tangkapan yang terasa spontan, dan mengalir saja, menjala emosi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya pilihan puitika Yo bersahaja, santun, tidak membuat orang kaget, dan merinding. Tak ada keliaran, tidak mbeling, meneror, ataupun urakan. Jangan berharap pertunjukkan sirkus silat kata, senssasi, atau kenakalan-kenakalan lainnya. Tertib, begitulah kesan yang coba dikemukakan. Pilihan yang barangkali tak bisa dipersalahkan, mengingat puisi berkembang hanya sebagai retorika dan ajang pamer ‘kecanggihan’ temuan kata seringkali malah membuat pembaca puisinya, berkernyit dahi dan pada akhirnya tinggal tak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko Pinurbo dalam pengantarnya menyatakan puisi-puisi Yo tidak menunjukkan kesan semau gue, kesan bijak berisi piwulang mengajak merenung dalam kebersahajaannya. Sederhana bisa jadi tidak selalu berarti gampangan; tetapi biasanya puisi gampangan memang dibungkus dengan sederhana dan tidak dalam. Tikungannya adalah, apakah puisi Yo ini gampangan hingga hanya dibalut dengan kesederhanaan dan ketidaknekoan? Atau memang puisi-puisi Yo memang mengalir tertib dan tenang seperti pertapa yang tahan godaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa puisi, Yo memang membuatnya gampang saja, gampang untuk dikomunikasikan dan direbut maknanya, puisi liris yang transparan dengan menitiktumpu pada retorika yang ‘mellow’ ataupun ‘emo’. Karenanya jalan liris adalah pilihan yang memang tidak bisa dihindarinya. Serius dengan perasaannya begitu yang kesan yang bisa ditangkap. Dengan keseriusannya, dalam kumpulan puisi ini saya jarang temui nada yang lain, komedis atau keriangan misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibutuhkan keberanian, dan kecermatan dalam mengungkapkan tikungan-tikungan  nada maupun tempo agar tidak terjebak pada keseriusan yang mandul dengan variasi ekspresif. Barangkali karena ketenangannya itu, dalam kumpulan puisinya Yo jarang tampil ironis. Yo sepertinya sibuk melukis dengan kata-kata dengan kedalaman emosinya. Dengan nada maupun tempo yang tenang dan tertib, kumpulan puisi ini terancam akan membosankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari puisi satu ke puisi lainnya, Yo tetaplah Yo, dengan sejumlah 110 puisi nyaris akan kita temui nyanyian yang sama. Barangkali memang Yo tidak terlalu memusingkan unsur bunyi yang pada umumnya buku puisi lain juga diabaikan. Dan, sepertinya memang jarang ditemukan kejutan baik pada aspek tata bahasa maupun aspek bunyi. Permainan bunyi kebanyakan dipilih untuk efoni hingga jatuhnya terkesan lembut. Meski, tidak terkesan pamer gincu, tetapi dengan pilihan nada yang yang nyaris seragam seperti itu ke 110 puisi itu sepertinya akan menampilkan nada yang tidak jauh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi memang indah ataupun endah, dalam penikmatan puisi, apalagi kumpulan puisi dibutuhkan lebih dari sekedar kata-kata indah. Kemampuan penyair dalam mengolah alat-alat puitik adalah taruhannya.Melalui pengalaman menyeleksi dan mengkombinasi penataan diksi, aspek tatabahasa, aspek bunyi, nada, dan diksi yang kaya seorang penyair sangat mungkin untuk mengekspresikan pengalaman fisik ataupun batin dengan bening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada kesederhanaan sebaiknya tidak dipahami sebagai keseragaman, baik aspek nada maupun nada. Sebaliknya sirkus kata maupun silat kata sebaiknya tidak perlu dipahami sebagai sesuatu yang harus selalu baru, terus menerus mengejutkan, serba terlalu. Kesederhanaan dalam puisi sepertinya harus selalu dalam koridor indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimata Imanuel Kant perasaan estetis berujung kepada dua hal yaitu keindahan dan keagungan. Obyek yang indah didefinisikan secara tepat dan unsur-unsurnya disusun secara seimbang Sementara objek yang agung bertumpu kepada ketidakterbatasan yang yang mengguncang persepsi baik melalui kebesaranya, ukuranya, dan energinya yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi secara individual bisa saja dikatakan indah, tetapi bila dikumpulkan menjadi sebuah buku kumpulan puisi bisa jadi akan memberikan efek nada, tempo, dengan demikian efek emotif yang berbeda. Sepertinya, pertimbangan keseimbangan dan penekanan (penonjolan) aspek-aspek puitika secara menyeluruh sewajarnya diperhatikan dengan lebih matang; meskipun aspek utama dari sekian puisi yang sedang pamer keindahan  adalah kesederhanaan. yang menjadi tema pokoknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Bono&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7524617641697668733-7868423894489909793?l=warunge-cakbono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/feeds/7868423894489909793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7524617641697668733&amp;postID=7868423894489909793' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/7868423894489909793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/7868423894489909793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/2007/03/review-buku-di-tikungan-puisi.html' title='Review Buku: Di Tikungan Puisi'/><author><name>Cak Bono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7524617641697668733.post-5312910539592424613</id><published>2007-03-21T00:44:00.000-07:00</published><updated>2007-03-21T01:00:31.530-07:00</updated><title type='text'>Review Buku: Simfoni ter-Pahit Bulan</title><content type='html'>Simfoni ter-Pahit Bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Simfoni Bulan&lt;br /&gt;Penerbit : Mediakita&lt;br /&gt;Hal  : x + 206&lt;br /&gt;Penulis  : Feby Indirani                             &lt;br /&gt;Tahun  : Cetakan kedua Maret 2006 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feby Indirani, penulis dan jurnalis wanita yang kritis mengangkat kerumitan kultural, struktur sosial dan perlawanan terhadap mitologi. Dunia sosial dan terutama isu bernada feminisme kental mewarnai novel Simfoni Bulan. Bercerita tentang seorang perempuan yang bernama Bulan. Perempuan dengan keinginan yang kuat yang terikat kuat oleh desakan superego yang mengitarinya. Sebagai persona yang menginginkan pencapaian atas aktualisasi diri, Bulan seakan harus mengalami serial kepahitan yang tak berujung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan sangat eksistensial-humanistik, percaya akan pencapaian maksimal. Sebagai seorang wanita muda yang ingin menjadi penulis ‘sejati’ dan karenanya harus merelakan tubuhnya sebagai alat yang memungkinkan dia mencapai tujuannya. Sebagai seorang wanita muda yang memuja dunia kepenulisan, ‘Vistya’, sang penulis sadomasokis memberinya pintu pertama yang menghantarnya sebagai seorang pelacur. Keputusan yang harus diambilnya selain untuk memenuhi kebutuhan hidup dan juga demi mendapatkan pengalaman langsung yang sekiranya akan menjadi pilar utama novel yang sedang ditulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksentrisisme menular, begitulah kira-kira gambaran awal pertemuan Bulan dengan penulis pujaannya. Kemampuan Bulan dalam mengidentifikasi, memproyeksi, dan mengalami katarsisme atas perilaku dan karya nyentrik Vistya  membuat mereka terlibat dalam suatu hubungan yang tak lazim. Bagi Vistya yang berkelakuan serupa Marquis De Sade ini, hubungan mereka lebih dari sekedar guru-murid ataupun kekasih melainkan juga terikat oleh semacam takdir atau barangkali karma?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vistya menjadi semacam gambaran ideal bagi seorang Bulan, yang seperti kebanyakan stereotip perempuan feminis harus tersuruk-suruk dengan hubungannya dengan lelaki. Karena hasrat dan keinginan yang harus berkonfrontasi dengan lingkungannya. Tentunya bukan tanpa sebab Bulan menjadi begitu keras kepala, dan berkeinginan kuat. Tindakan manusia selalu dikondisikan oleh lingkungannya karena tingkah laku manusia adalah merupakan tanggapan terhadap kondisi lingkungannya. Pergaulannya sebagai jurnalis yang terlibat secara emosional dengan pelacur Kramat Tunggak memberinya gambaran bahwa selain sebagai komoditas perempuan juga merupakan objek bagi konsumsi kaum lelaki. Dan, para pelacur itu merupakan korban moralitas semu yang malah menekan kehidupan perekonomian mereka setelah Kramat Tunggak mengalami penggusuran untuk dijadikan  rumah peribadatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan sendiri harus menelan kepahitannya sendiri atas kekritisannya tersebut. Kemudian, setelah mengundurkan diri sebagai wartawati serangkaian tragedi terus menguntitnya. Sebagai seorang ibu angkat atas anak temannya, pelacur yang tewas terbunuh, Bulan juga sempat menjalin hubungan yang kandas dengan lelaki gombal bernama Gangga. Semakin terasa kelam dengan kebuntuannya dalam menulis novel, dan dinistakan para lelaki bahkan sahabatnya sendiri sebagai pelacur gagal Dan, tak kalah pelik hubungannya dengan ibunya sendiri juga mengalami kemacetan yang parah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak keruwetan terjadi ketika Bulan tahu pembunuh temannya yang juga ibu kandung anak angkatnya. Di saat yang bersamaan Ibu Bulan juga menjelang ajal akibat sakit parah. Tak kuasa menahan tekanan realitas yang menusuknya, Bulan pingsan di rumah sakit yang kemudian dengan cara ‘ajaib’ bertemu dengan Vistya; yang kemudian memberikannya kelahiran baru yang semu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdua menghabiskan waktu di India, Bulan pada akhirnya menetap di India setelah ditinggal pergi begitu saja oleh Vistya, hal yang mestinya sudah dia mengerti betul. Namun yang tak kalah pahit adalah ironisme di akhir cerita, membuat orkestrasi kepahitan Bulan semakin getir dan mengkristal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam psikoanalisa Freud dikenal istilh: Id, dorongan alamiah jiwa manusia untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan kehendaknya tanpa kendali yang terletak dalam pikiran anak-anak. Superego, perwujudan dari wewenang diluar dirinya yang merepresi dengan keras keinginan Id. Ego, atau kesadaran, sementara itu, adalah penyeimbang antara hasrat Id dan tuntutan pengendalian dan pembatasan dari Superego. Dalam hal ini Bulan adalah karakter atau katakanlah kepanjangan dari Id yang harus berkonfrontasi dengan Ibunya yang mewakili superego. Bulan harus berhadapan dengan masa lalunya yang membuat hubungan dengan ibunya tak lebih dari keterasingan atau saling meninggalkan satu sama lain; dan adiknya Adit adalah gambaran dari Ego yang berusaha menyeimbangkan dendam Bulan kepada ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan telah lama kehilangan figur Ibu, sepertinya hal inilah yang mendorongnya untuk mengangkat Bayu sebagai anak. Yang pada akhirnya menjadi beban ekonomi yang merupakan salah satu pendorongnya umtuk menjadi pelacur. Yang menarik disini adalah ironisme betapa seorang perempuan cerdas dan berpendidikan dengan berbagai alasan berubah haluan menjadi seorang pelacur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya semuanya bersumber dan ditorehkan oleh masa lalu Bulan  yang trauma berat  ditinggalkan oleh ibunya, dan semakin pilu karena sosok Papa bahkan tak pernah ada untuknya. Menjadi ambisius dan terlibat seks dengan banyak lelaki termasuk ideologi berkesenian Vistya. Hasrat untuk melawan keadaan diri dan masa lalunya yang semakin mendorongnya menjadi perek. Itupun, nantinya Bulan harus menerima nista  yang lebih lagi dari sahabtanya yaitu bahkan menjadi pelacur pun seorang Bulan yang cerdas dan kritis itu tak sanggup. Lalu kolong manakah lagi yang sanggup membuatnya nampak sebagai perempuan, sekaligus hebat dan humanistik jika baginya kehidupan terasa berusaha begitu keras menolaknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Bono&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7524617641697668733-5312910539592424613?l=warunge-cakbono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/feeds/5312910539592424613/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7524617641697668733&amp;postID=5312910539592424613' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/5312910539592424613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/5312910539592424613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/2007/03/book-review-simfoni-pahit-bulan.html' title='Review Buku: Simfoni ter-Pahit Bulan'/><author><name>Cak Bono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7524617641697668733.post-1053211681465268819</id><published>2007-03-17T03:05:00.000-07:00</published><updated>2007-03-21T00:51:42.944-07:00</updated><title type='text'>Review Buku: Yang Liu, Yang Lain</title><content type='html'>Yang Liu, Yang Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Yang Liu&lt;br /&gt;Penerbit : Bentang&lt;br /&gt;Hal  : x + 182&lt;br /&gt;Penulis  : Lan Fang                             &lt;br /&gt;Tahun  : 2006 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali dengan kumpulan cerpen berjudul Yang Liu yang dibangun penulisnya dari sosok imajiner atau sebut saja sebagai alterego. Di mana, kumpulan cerpen ini bercerita tentang kepingan hidup dari karakter-karakter imajiner  bernama Lan Fang, perempuan keturunan Cina dengan berbagai sisi problematika dan kerumitan hidup. Jatuh bangun oleh cinta, marginalisasi, prasangka-prasangka antropologis, dan struktur sosial yang masih didominasi oleh penindasan seksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku dengan sampul merah menyala dengan paduan warna kuning keemasan, bernuansa etnis, seperti benderangnya lampion-lampion menjelang Imlek yang merupakan simbol akan pengharapan dan kemakmuran. Demikian pula harapan tokoh-tokoh yang mengalami kerumitan hidup dan kekecewaan yang pahit dalm kumpulan cerpennya. Hidup sebagai perempuan terasa penuh liku apalagi perempuan keturunan Cina yang minoritas seringkali lebih pahit karena terpinggirkan. Pandangan stereotip yang berkembang menganggap hidup mereka dalam seperti sangkar emas. Karena, secara ekonomi mereka hidup lebih baik; tetapi pada kenyataannya tidak semuanya sama seperti yang dibayangkan. Sepertinya klise, tetapi, pada prakteknya pandangan miring yang stereotip tentang ‘keberuntungan’ merekalah yang lebih mengemuka dan pada akhirnya menyulut sentimen ekonomis dan rasialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hampir semua cerpen, kebanyakan tokoh wanitanya digambarkan sebagai mahluk  yang mendapatkan takdirnya untuk berjodoh dengan kekecewaan dan hidup pada situasi yang termarginalkan. Lan Fang (seperti pada cerpen Yang Liu ) akhirnya, dengan kepasrahan atas occultisme perhitungan Cina, menyerahkan nasibnya kepada ramalan bahwa dia akan selalu berjodoh dengan kematian. Pada kenyataannya, adalah suatu kebetulan bahwa dari semua lelaki yang mencintainya berakhir dengan kematian. Pada akhirnya berketetapan untuk menjadi perawat mayat. Suasana mitologis seperti ini nampaknya juga menarik bagi penulisnya. Nuansa-nuansa seperti  ini diungkapkannya pada beberapa cerpen: Yang Liu, Gong Xi Fa Chai dan Bayi ke Tujuh bahkan novel sebelumnya  Kembang Gunung Purei&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema tentang terpinggirkannya perempuan mungkin masih menarik untuk diangkat ke permukaan, sebagai bentuk perjuangan kritis dan penyadaran yang terus menerus. Kali ini, penulis tidak sekedar bermain dengan isu perempuan yang secara kultural masih terpinggirkan, dan dilainkan. Tetapi, juga mengangkat isu bahwa pada kenyataannya  tak semua warga keturunan Cina itu kaya dan beruntung. Pandangan bahwa keturunan Cina secara ekonomi lebih baik yang terbingkaikan di mal-mal, pasar-pasar, dan toko-toko. Dunia usaha yang secara kultural dipandang sebagai domain mereka. Memang, kedekatan dan kemampuan mereka pada dunia usaha dengan corak kapitalistiknya seringkali  menimbulkan kecurigaan rasialis. Tetapi, perlu diingat bahwa lebih dari itu subordinasi bisa terjadi di wilayah manapun, dan sosok Lan Fang pada beberapa cerpen dari Yang Liu ini berusaha mengungkapkan penindasan rasialis dan seksis sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sebenarnya isu utama yang lebih mendominan pada kumpulan cerpen ini terutama cerpen Yang Liu adalah kekalahan Lan Fang  atas nasib, daripada status ekonomis. Dan, lebih jauh  seakan ditemui penekanan atas kesan yang mengungka realitas bahkan untuk urusan ‘takdir’ pun seorang perempuan  masih harus ternomorduakan. Entah akibat ramalan, atau memang benar ‘takdir’ yang  mendorong Lan Fang alias Yang Liu untuk selalu saja tidak beruntung dengan hubungan cintanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali tidak gampang mencari jodoh bagi perempuan dimana tengara umum yang berkembang adalah bahwa jumlah perempuan dikatakan lebih banyak daripada laki-laki. Apalagi,  beberapa waktu lalu isu pro-kontra poligami merebak dengan hangat dan bahkan sempat menjadi bola politik. Dan, Para Lan Fang dalam kumpulan cerpen ini sepertinya harus menerima kenyataan untuk tersuruk-suruk dalam percintaan bahkan acapkali ‘tidak kebagian pria sama sekali’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kebanyakan cerpen, penulis sepertinya mencoba memberikan gambaran atas ketimpangan struktur sosial yang secara kultural masih memarginalkan perempuan. Lan Fang  yang meskipun bisa dianggap lebih beruntung dengan berparas cantik daripada  kebanyakan wanita, tetapi tetap saja pandangan politik gender menempatkan dirinya secara sosial, psikologis, dan bahkan dihadapan takdir menjadi yang ternomorsekiankan. Sudah perempuan, keturunan Cina, tidak kaya, bahkan tersubordinasi di hadapan takdir yang membawanya sebagai pembawa sial, dekat dengan ketidakberuntungan bahkan kematian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada wilayah politik gender, alteritas mengkonstruksi perempuan sebagai yang Lain yang mana secara tradisional perempuan dianggap sebagai segala sesuatu di mana laki-laki tidak demikian, lebih jauh laki-laki adalah sebagai segala sesuatu di mana perempuan tidak mampu  lakukan. Perempuan mengalami alteritasnya tidak hanya dalam  perbedaan kelamin dan posisi gender; tetapi juga terkait dengan latarbelakang etnis, pendidikan, profesi, kelas sosial, dan ketidakmampuan fisik ataupun psikologis (Cavallaro). Nampaknya, penulis  berusaha mengilustrasikan hal-hal ini, salah satunya  seperti pada cerpen, Cerita Ini Dimulai dari Tengah, ataupun  Calon Menantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan posisi sebagai ‘the second sex’ perempuan seringkali ditempatkan pada konteks ekofominisme yang mengaitkannya  dengan Bumi sebagai kehidupan, kesuburan, pengasuhan, dan  pemeliharaan yang secara khusus digerakkan oleh elemen yang bersifat keperempuanan, dan keibuan. Hal ini mendevaluasi secara metaforis baik posisi perempuan maupun alam. Merendahkan perempuan sebagai yang Lain dengan metafora semacam: ladang persemaian, sapi perah, anjing betina dsb. Dengan begitu baik perempuan dan alam dianggap sebagai yang disediakan ataupun obyek untuk konsumsi laki-laki. Dalam hal ini,  panulis juga menyinggung isu ekofeminis sebagai ladang persemaian dan  kesuburan ini seperti pada cerpen Bayi Ke Tujuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lainnya, pada kumpulaan cerpen Yang Liu, penulis  juga bercerita banyak tentang budaya peranakan,  ritualisme seperti detail prosesi pemakaman masyarakat keturunan, mitologi, maupun simbolisme. Kumpulan cerpen ini juga diwarnai ironisme, dimana tak hanya para lelaki yang mampu menindas seorang perempuan bisa berbuat hal yang sama: Rumah Tanpa Cermin. Penulis juga mengambil sudut pandang sebagai ‘orang dalam’ alias subyek yang me-lain-kan, dan bukan sang Lain itu sendiri. Dengan demikian suasana ironis begitu terasa manakala pembaca disuguhi kenyataan bahwa sang aku liris justru terlihat kurang bermoral karenan terjebak dalam pikiran-pikiran rendahan yang klasis, dan rasialisnya sendiri seperti pada cerpen: Calon Menantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa narasi mempunyai jalinan lumayan kuat, metaforis, dan bernada liris. Berbekal dengan pengalaman dan tehnis menulis yang dimilikinya,  penulis berusaha bermain suspense pada alur cerita seperti pada: Cerita Ini Dimulai dari Tengah dan permainan sudut pandang bisa ditemukan pada cerpen Dua Perempuan. Barangkali yang   ‘disayangkan’ adalah justru tokoh-tokoh utama mengambil nama Lan Fang. Penamaan tokoh yang meskipun tidak boleh secara langsung diasosiasikan dengan biografis pengarangnya, betapapun mirip. Tetapi, bisa jadi bagi beberapa pembaca hal tersebut masih meninggalkan kesan  referensial biografis yang kuatv terhadap penulisnya yang juga perempuan keturunan Cina dan bernama Lan Fang tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun penamaan Lan Fang mengandung resiko asosiatif dengan biografis pengarangnya; tetapi penulis berusaha kuat menampilkan karakter-karakter sebagai ungkapan alterego. Tetapi, tak urung, kesan kurang pede masih agak terasa. Barangkali, dengan maksud seakan-akan untuk mengurangi kadar referensial yang asosiatif itu penulis lebih memilih nama Yang Liu daripada Lan Fang sebagai judul utama. Bahkan, pada cerpen Yang Liu sendiri seringkali penulis menambahinya dengan ‘Saya lebih suka memanggilnya Yang Liu’ . Entahlah, apakah benar Lan Fang (penulis) kurang pede dengan pemakaian nama tokoh Lan Fang itu sendiri. Atau, barangkali memang seperti yang dia tegaskan bahwa penamaan Lan Fang adalah langkah paling mudah untuk menghindari perasaan bersalah atas nasib karakter-karakter rekaanya dari kemiripan nama-nama yang berbau ‘oriental’ di luar sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan mungkin apa yang coba diungkap oleh  penulis barangkali tergambar pada cerpen Yang Liu, yang dijadikan judul utama kumpulan cerpen ini. Sebagai perempuan dalam ruang lingkup alteritas, memberi warna dan kecantikan. Merawat kematian kemudian memaknainya dengan lebih adalah barangkali hal terakhir yang bisa dilakukan agar setidaknya hidupnya punya essensi. Meskipun dalam sudut pandang tertentu hal ini bisa diartikan sebagai bunuh diri secara mentalitas, tetapi, setidaknya lebih baik daripada bunuh diri secara fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bono A.J.&lt;br /&gt;Penikmat Sastra Populer, salah seorang moderator di milis APSAS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7524617641697668733-1053211681465268819?l=warunge-cakbono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/feeds/1053211681465268819/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7524617641697668733&amp;postID=1053211681465268819' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/1053211681465268819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/1053211681465268819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/2007/03/warung-cak-bono-yang-liu-yang-lain.html' title='Review Buku: Yang Liu, Yang Lain'/><author><name>Cak Bono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7524617641697668733.post-4032744110422023866</id><published>2007-03-17T02:56:00.000-07:00</published><updated>2007-03-17T03:00:57.711-07:00</updated><title type='text'>Warung Cak Bono : Poligami bukan penindasan…dan boleh tuh!</title><content type='html'>Warung Cak Bono : Poligami bukan penindasan…dan boleh tuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi warung diperkosa oleh bau bumbu mie instan yang menyengat menusuk-nusuk hidungku. “Mmmie apa ini? Bumbunya seperti bau urine yang belum disiram!” Menyalahkan pilihan mie instan pemesan itu. Wajahku memerah akibat uap panas dari panci, bercampur dengan panas kompor gas. Sepi, dan sang pemesan-satu-satunya malam ini terlihat seperti sedang asal saja melihat-lihat koran. Kusiapkan mie goreng instan pesanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai menerawang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan, ah perempuan, mahluk yang kadang susah dimengerti. Coba lihat berita dan gambar seorang penyanyi dangdut; kabarnya masalah ini sempat menjadi bola politik. Dan, isu negatif poligami yang merebak sempat menyeret Dai kondang. Bahkan, entah serius atau tidak undang-undang poligami juga tengah dipertimbangkan dengan lebih serius untuk aparatur negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan mahluk yang manis, lembut dan jinak, tetapi mana sanggup bersaing dengan mereka para perempuan di kantor. Saat ini mereka terasa begitu cair menyeberang kesana-kemari melintas batas dengan stiletonya. Kadang teman, kadang kekasih, kadang saingan, kadang mangsa jinak di padang rumput. Sekali waktu menolak poligami, tetapi disaat lainnya perasaan mereka seakan bisa dibaca dengan ungkapan jujur semacam lagu Astrid: …jadikan aku yang kedua buatlah hidupku bahagia, walaupun kau tak kan pernah kumiliki selamanya…Penghamba cinta dan kesetiaan yang katanya lebih hebat dari laki-laki!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti laki-laki lainnya, aku pernah mengalami badai hebat cinta seorang perempuan. Sebenarnya, aku sayang sama dia tapi kelakuannya itu yang menakutkan! Entah apa namanya itu, posesifkah, atau entahlah. Aku mengenalnya kurang dari setahun, dan tahu-tahu kita sudah sering keluar bersama, dan memang dia yang nembak duluan! Tak beri banyak kesempatan untuk berpikir. Pada akhirnya, memaksaku untuk bilang : Yah…kita jalan tapi aku tak tahu apakah perasaan ini cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya terdengar seperti cerita-cerita sinetron:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa waktu memang kita terlihat seperti pasangan, tetapi masalah timbul dan perasaan ini menikung tiba-tiba. Ada sosok perempuan lain yang memenuhi ruang pandangku. Dan cilakanya, dia memperhatikan perubahan itu. Perempuan memang peka, dia tahu angin sedang berubah arah. Dan, kukatakan saja padanya bahwa aku suka perempuan itu, tipe dan karakter sepertinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh suatu kesalahan jika kau jujur kepada perempuan! Mereka akan berubah menjadi burung merak yang agresif pamer bulu kepada saingannya. Ingat puisi Coctail Party, Toeti Heraty? Amuk badai antara insan itu? Jangan beri mereka saingan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan kita menjadi aneh dengan sikapnya yang selalu saja berusaha mengkopi-paste perempuan lain itu malah membuatku eneg. Maka kubilang saja, ‘Kau takkan pernah bisa jadi dia!’. Sekali lagi jangan pernah jujur kepada perempuan! Dia malah mengartikan bahwa aku benar-benar suka kepada perempuan lain itu; dengan begitu posisi perempuan lain itu tak akan terhapuskan. Pikiran yang aneh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rokok bergemeretak ke tengah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan, kata Lula Kamal pada sebuah acara tipi adalah mahluk dengan derajat kesirikan (ke-iri-an) tinggi. Barangkali memang seperti itu, mereka cenderung bersaing dan bahkan kurang bisa menerima persaingan sesama jenis. Seorang direktris bisa untuk tidak berfikir dua kali untuk lebih merampingkan dan memotong saingan sesama jenis yang mengancam posisinya dalam suatu struktur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka seperti tak mau bersaing satu sama lain kecuali memuncakinya sebagai satu-satunya Ratu. Mungkin benar juga. ‘Pacar’ku itu sepertinya berfikir taktis. Dia mendatangi perempuan lain itu, setelah berpura-pura tak mengenalku bertanya apa dia juga punya angin untukku. Jawaban yang salah kembali muncul:’ iya!’. Kemudian, pada saat lain balik menanyakan kepadaku apakah aku benar-benar punya angin kepadanya, jawabanku melipatgandakan emosinya: ‘kau cari tahulah di mataku’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan memang kuat! Bahkan katanya kekuatan mereka pada saat di dalam kandungan pun melebihi bayi laki-laki. Entah apa yang akan ditempuh oleh perempuan lain, tapi kali ini pun dia tak mau menyerah. Berikutnya adalah tindakan yang terpaksa mengganggu hubungan kami bertiga selamanya. Pada suatu sore dia kembali menemui sang perempuan lain itu dan berkata dengan nada tenang dan bijak.’Aku tak akan menghalangi hubungan kalian, dengan demikian maukah kau menjadi MADU-ku…mau kah kau jadi yang ke dua…? Karena aku sangat mencintainya…!’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pernyataan yang saat itu menurutku tak perlu. Karena kuanggap kita masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan. Entah tindakanya itu benar atau tidak, emosional atau tidak. Yang jelas, pada saat itu aku memang tidak berpikiran untuk poligami, dan perempuan lain itu tentu saja seperti kebanyakan perempuan lain tak mau menjadi yang ke dua. Dengan segenap perasaannya, perempuan lain itu hanya mensaratkan ‘kalo bukan aku seorang lebih baik aku mundur’. Sementara perempuan lain itu bersama waktu menyembuhkan luka, ‘pacar’ku itu semakin menunjukkan determinasi dan romantisme atas kepemilikan cintanya kepadaku yang sulit ditandinginya. Tak peduli aku eneg atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu berhenti bercerita, menginjak rokoknya dan mulai menghadap ke mie instannya sambil kembali berkicau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita memang telah berpisah dan mereka entah bagaimana, setahuku ‘pacar’ku itu sekarang di Jerman, dan sempat berkirim surat dengan tinta merah…hhhmmm “  Dia menggumam sambil jari tangannya terus membentuk angka dua tiap kali menyebut pacar.&lt;br /&gt;Dia melanjut kembali obrolan yang rasanya lamban dan membosankan itu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanpa bermaksud menyinggung agama manapun, sebaiknya poligami memang bukan menjadi masalah, kalau memang perempuan itu sendiri mau menjalaninya, kenapa kita ribut, melarang-larang bahkan meng-UU-kannya?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Poligami bukan kejahatan, bila perempuan itu sadar dan kebetulan mau, yah biarkan saja… Lagian, masalah poligami itu seperti masalah pilihan saja dan pada dasarnya tak ada hubungannya dengan penindasan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada jaman sekarang, perempuan kantoran dan berpendidikan pun tak jarang mau dijadikan menjadi yang kedua…ya thoh!...hehehehe…” Dia menyeringai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perempuan sekarang sudah pintar jadi gak usah diatur-atur, dan jadikan saja mereka pintar-pintar. Masalah utama penindasan terjadi karena kebodohan dan keterbelakangan, dan bukan poligami. Jadi kalau ada perempuan berpendidikan mau dipoligami itu berarti mereka sadar dan telah berfikir logis. Terus, jangan dipojokkan, apalagi menggolongkan mereka sebagai yang tertindas. Poligami bukan penindasan…dan boleh tuh…hehehehe..” Dia kembali menyeringai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kutanyakan kepadanya : “ Cak, sampean berpoligami?”&lt;br /&gt;“Ah nggak cak, gak berani…gak berani sama yang di rumah, dan uangnya yang paling gak berani…hehehe…” &lt;br /&gt;Distributor roti untuk warungku itu ketawa ringan. Dia ku beri gratis  mie instan pesanannya karena minggu ini rotinya lumayan laku di warungku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai dengan mie instanya, dan hendak memesan minuman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Poligami…enak cak Bono!” Dia  memesan kopi susu sambil nyegir lagi. &lt;br /&gt;Lalu kubalas: “Cak mau kopi saya?” Sambil tersenyum menawarkan gelas kopiku yang baru saja ku minum.&lt;br /&gt;Dia ketawa:  “Hehehe…nyindir iki rek! Mosok enak kopi sak gelas dikaroni…mosok enak bojo siji dikaroni…hehehehe…”&lt;br /&gt;Aku ketawa kecil: “Aku gak ngomong koyo ngono lho cak…hahahaha…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam masih muda, dan aku sudah merindukanmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Bn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikaroni = dinikmati berdua&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7524617641697668733-4032744110422023866?l=warunge-cakbono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/feeds/4032744110422023866/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7524617641697668733&amp;postID=4032744110422023866' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/4032744110422023866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/4032744110422023866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/2007/03/warung-cak-bono-poligami-bukan.html' title='Warung Cak Bono : Poligami bukan penindasan…dan boleh tuh!'/><author><name>Cak Bono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7524617641697668733.post-486300377914081256</id><published>2007-03-16T01:23:00.000-07:00</published><updated>2007-03-16T01:27:29.935-07:00</updated><title type='text'>Warung Cak Bono : Bunuh Diri!</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Wak Jani memarkir becaknya sambil tangannya menelunjuk, kode yang telah dimengerti benar: Kopi Jahe. Tangannya meraih koran dan satunya lagi mengambil kacamata dan membenamkan kewajahnya dengan satu tangan. Mulutnya berkomat-kamit, tapi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;suaranya seperti sengaja diperdengarkan agak keras. Lebih keras daripada menggumam dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dengan nada agak sinis dibacanya berita tentang bunuh dirinya seorang ibu setelah meracuni anak-anaknya dengan potas.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Opo-opoan iki! Nek &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;wis&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; putus asa yo gak usah ngajak-ngajak wong liyo!” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Mulutnya mengepulkan asap dari rokok tingwe yang ujungnya bergemeretak terbakar. Bau mulutnya menyembur bercampur aroma rokoknya yang khas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Yo bener iki dudu bunuh diri masal, tapi pembunuhan diikuti oleh bunuh diri! Wah-wah, tobat…tobat…ono opo iki?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Cak Jo yang dari tadi sibuk membolak-balik koran halaman olahraga menyahut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Halah..halah…pean iku, rame ae! Lha aku iki malah seneng ono bunuh diri hehehe…!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Lha kok iso!! Pancene koen iku seimpel-sinting-geblek!!!” Kata Wak Jani.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Iyo lha wong bek kiri Persicurut melakukan tendangan safety first bunuh diri nang gawange Persitikus…hahaha…aku menang taruhan mbah!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Oh ancene…irungmu pesok! Dengkulmu anjlok! Koen ngomong bal-balan tah!”&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Warung jadi rame dan riuh penuh dengan pisuhan dan umpatan sebangsa acara Empat Mata. Tak sobek-sobek cangkemmu dan Puas…puas…puas! Sayang gak ada cewek cakep disini kecuali wong lanang pentol korek tok! Udah botak, kere lagi. &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Wis&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; pokoke gak mak-nyus blas.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Wak Jani menyeruput kopinya sambil bibirnya mbecong-monyong kepanasan. Lupa kalo kopi jahenya belum didinginkan. Dan efeknya, kembali Cak Jo ngakak dengan nada menghina seperti Pak Hendra OB.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Eh sakno Cak Jo, wong tuwo kok diguyu-guyu, wes weruh nek Wak Jani iku darah tinggi lha kok ditanggap terus!” Aku berkata sambil sedikit tersenyum dengan kaki kiri menggaruk-garuk kaki sebelah kanan akibat digigiti nyamuk.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sesaat setelah riuh. Suasana kembali dipenuhi suara tivi dan buah-buah catur yang berderak disusun kembali. Sepi. Dan, mereka tenggelam dalam lamunannya masing-masing: tanggal masih muda dan kantong sudah sangat uzur begitu kira-kira isi kepala mereka.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Mungkin, bisa jadi bunuh diri terlintas dikepala mereka akibat pukulan bencana-bencana dan cekikan kebutuhan hidup plus utang. Tapi, mengapa justru belakangan berita yang berkembang di koran malah bunuh diri dilakukan oleh orang-orang dari keluarga dengan tingkat pendidikan lebih tinggi dan tingkat ekonomi yang dikata lebih tinggi; apa harga diri mereka lebih mahal dari kumpulan tukang becak dan pengaduk kopi macem aku ini…mmhh absurd!&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Beberapa waktu lalu sempat kubaca kalo tak salah ingat dari psikolog Sartono mukadis bahwa bunuh diri mempunyai tendensi macem-macem, ada yang bertendensi heroisme, romantisme bahkan ditengara genetis juga. Romantisme, bunuh diri agar mendapatkan perhatian dari seseorang, yah perhatian! Menurut pemahaman cekakku, romantis itu memang cenderung terlalu sentimental. Apa yang membuat manusia begitu romantis? Bukankah penyair selalu begitu romantis?&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Hemingway bunuh diri, Anne sexton dan Sylvia Plath bunuh diri, Emily Dickinson depresi; dan Marquis De Sade neurosis tetapi karya-karya mereka cukup diakui dan bahkan dianggap inspiratif. Gibran yang begitu liris merayu dan romantis. Shakespeare yang romantis, menjalin laku bunuh diri Romeo dan kemudian Juliet terasa begitu agung, begitu indah. Tetapi bagaimanapun juga, tetap saja itu bunuh diri. Meski tak terasa terlalu menghina akal sehat kita, kisah bunuh diri Romeo dan Juliet tetap saja tak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Cinta yang romantis, cinta yang inspiratif, aku bahkan pernah dijuluki si pengaduk kopi yang romantis. Mungkin benar adanya, disaat emosi entah itu karena cinta atau kehilangan yang merupakan saudara dempet aku seringkali murung berlebihan bahkan mogok berpikir bertahun-tahun. Agar dia tahu, agar dia mendengar, agar dia berempati. Jadinya, Romantisme terdengar seperti semacam kebutuhan untuk didengarkan, diakui eksistensinya, diperhatikan dan direspon dengan sama hangatnya. Ah romantisme memang mahal, jika perlu harus ditebus dengan nyawa. Kini, aku lebih baik beku dan bisu saja daripada otak dan puisi ecek-ecekyang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terus menggenang dan membanjiri perasaan hingga ancur mumur.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Bila romatisme bisa jadi racun yang paling mematikan kepada jiwa kemudian merenggut nyawa, kenapa perilaku romantis masih saja seakan terasa agung. Berbeda dengan fiksi pilihan kematian dalam kehidupan tidak dapat dilalui berulang-ulang. Sekali mati dalam hidup, yah sudah, lewat-lunas-dan tandas. Bila tahu demikian, kenapa penulis dan pembaca menyukai kepedihan tokoh-tokoh fiksi, romantisme tokoh-tokohnya, dan ikut menikmati kematian sebagai katarsisme? Apa enaknya perih dan kematian hingga begitu banyak manusia menikmatinya dalam fiksi? Bon Jovi dalam In these arms bersyair: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Like roses wonder rain, like a boat needs the wind, like a poet needs the pain…I need you! Memang puisi seakan makin perih makin berisi, ah betapa masokis.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Media-media kita tak urung harus mengakui kecenderungan ini, lihat sinetron yang dipenuhi oleh orang-orang sakit parah menjelang mati, dan penyelesaian-penyelesaian cerita dengan kematian. Dan pengorbanan yang meroket tak masuk akal begitu agung bagi perasaan kita, dan digemari. Menjadi sebuah pilihan utama: Berlaku dengan Romantis, dengan berlebihan tak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Lewat Max Milner. Dalam sebuah teksnya yang tak begitu dikenal, &lt;i style=""&gt;Considerations actuelles sur la guerre et sur la mort, 1915,&lt;/i&gt; Freud menyimpulkan, bagaimana sastra dan drama merupakan kompensasi pengalaman kematian kita, dan bagaimana ciri tersebut menjadi pilihan wilayah narsisme. Dalam wilayah fiksi, kita menemukan kemajemukan hidup yang kita butuhkan. Kita dapat mati seperti tokoh utama yang kita sukai, sementara pada kenyataanya kita terus hidup dan siap mati lagi dengan tokoh lain dan dengan cara dan pengalaman yang lain dalam keadaan sehat dan selamat.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sastra, drama, film dan seni memungkinkan kita untuk bersimulasi melipatgandakan kematian. Mati dengan cara pilihan kita. Menyeberangi laut gelap kematian berkali-kali, merasakan bahwa seakan-akan sakit dan kematian begitu jinak! Begitu jinak sehingga dengan mudah buku-buku sastra, drama, film dan media seni lainnya membuat mati nampak menjadi momen romantis yang jinak; tak jarang herois. Padahal, benarkah kematian sejinak itu? Tentu hanya para jenazah dan para orang mati yang mengetahuinya. Maka pilihan identifikasi- proyeksi dan inhibisi dalam bersastra, dan berkesenian sepertinya juga dalam ukuran tertentu bisa jadi menyulut aksi bunuh diri dengan latar romantisme dan heroisme ini.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sejauh mana aja aku bisa merasakan manis atau pahitnya barangkali setelah kopi jahe kedua Wak Jani ini sempurna teraduk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Klunting…klunting…klunting…klunting…klunting&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7524617641697668733-486300377914081256?l=warunge-cakbono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/feeds/486300377914081256/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7524617641697668733&amp;postID=486300377914081256' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/486300377914081256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7524617641697668733/posts/default/486300377914081256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warunge-cakbono.blogspot.com/2007/03/warung-cak-bono-bunuh-diri.html' title='Warung Cak Bono : Bunuh Diri!'/><author><name>Cak Bono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
